Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Titik Temu Nilai-nilai Kemanusian Barat dan Islam

Sunday, 10 November 2019

Oleh Fathurozi

Pasca terjadinya serangan teroris terhadap Menara Kembar World Trade Center (WTC) di New York dan Gedung Pentagon di Washington DC. Hubungan dunia Barat dan Islam semakin memburuk, meskipun dulunya kurang baik. Karena Negara barat selalu curiga hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Tak ayal, bermunculan slogan-slogan anti barat dan anti Amerika di Negara-negara muslim.

Citra Islam tercoreng karena dikalangan umat Islam sendiri masih terdapat perbedaan mengenai berdakwah dengan kekerasan. Tak ayal ramai-ramai memusuhi Islam. Kelihatannya masyarakat Internasional menjadikan Islam sebagai musuh bersama yang harus dilenyapkan.

Negara barat beranggapan Islam sebagai agama yang agresif, bermusuhan dan anti Amerika. Polemik barat dan Islam terjadi bukan perbedaan idiologi dan politik. Namun terjadi karena benturan peradadan seperti yang diungkaplkan Samuel Huntington. Padahal Pesan damai Alquran sudah diajarkan Rasulullah sejak 14 abad yang lalu. Alquran secara fitrah tidak mengajak pada kekerasan. Nabi Muhammad Saw selalu mengajak pada kedamaian dan berbuat baik kepada sesama.

Kelihatanya perdamaian barat dan Islam tak akan pernah menemukan kata sepakat. Karena masing-masing pihak selalu menemukan keraguan dan prasangka. Dalam catatan sejarah umat Islam mencapai kejayaannya di abab 7 - 11 M, salah satunya disebabkan oleh terbukanya dialog pemikiran-pemikiran barat (Yunani), (halaman 279).

Polemik ini diperparah lagi, oleh media barat yang mengkonruksi pemberitaan mengenai “Jihad”, yang diidentikan dengan perang. Padahal yang berpandangan jihad adalah perang, hanya sebagian kelompok umat Islam, selalu gencar menyebarkan dari mimbar ke mimbar. Pemahaman seperti ini mengakibatkan pemerintah Amerika Serikat memasang spionasi kamera di beberapa masjid dan Islamic center di AS. (halaman 208).

Buku berjudul Mendakwahkan Smiling Islam; Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat. Buku ini membeberkan. Pertama, menegakan amar mar’ruf nahi munkar dan meladani etika sosial bersama dalam kehidupan berbangsa dan dunia internasional. Kedua, menemukan sisi kemanusiaan antara dunia barat dan dunia Islam.

Abdurrahman Mas’ud, selama tinggal AS, Ia berdakwah melalui lisan dan tulisan yang tersebar di media massa dan jurnal ilmiah. Bahkan, saat bulan Ramadan Masjid-masjid di AS khususnya dibeberapa Islamic center seperti di Southern Califonia, Los Angeles, memiliki tradisi menerima pemaluk agama lain dan mengelar dialog kemanusiaan yang menjadi bagian dari solusi ketidak adilan sistem global, (halaman 79).

Seiring berjalannya waktu, ada kesadaran baru dikalangan orientalis untuk menyajikan Islam sesuai warna aslinya. Diantara mereka yaitu Mitsuo Nakamura (Jepang), Markwood Ward (Arizona), Sate University, As dan John L. Esposito (Colllege of the Holy Cross AS). Bahkan ilmuwan-ilmuwan ini sangat simpati terhadap dunia Islam, baik Islam sebagai realitas sosial atau sebagai agama, (halaman, 217).

Menarik apa yang dikatakan, Prof. Dr. H. Nasarudin Umar, Imam Masjid Istiqlal Jakarta dan, Rektor Institut PTIQ Jakarta dalam sinopsisnya. Menurut dia, buku ini secara implisit mengritisi Orientalisme dan oksidentalisme, menawarkan dialog dalam hubungan setara antara Islam dan Barat. Bahkan bagi fundamentalis, buku ini mewartakan mutiara Islam dimanapun termasuk di AS. Mutiara Islam berupa nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan ilmu pengetahuan yang merupakan nilai dasar agama Islam.

Islam Indonesia terkenal dengan sebutan “Smiling Islam” (Islam yang tersenyum). Namun saat ini wajah Islam mulai berubah dari Islam ramah ke Islam marah, karena munculnya Islam radikal yang beranggapan bahwa selain dirinya adalah sesat dan salah. Kemunculannya merusak hubungan antara umat Islam dengan non Islam di Indonesia dan dunia Internasional.

Smiling Islam tak cukup hanya menjadi bahan diskusi atau dialog di forum-forum ilmiah. Namun perlu diimplementasikan pada dunia pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Smiling Islam harus dimiliki oleh para penyuluh agama dalam menyelesaikan persoalan keagamaan yang terjadi di masyarakat. Jika Smiling Islam dipraktekan dalam bernegara akan tercipta hubungan antarumat beragama yang harmonis dan saling menghargai perbedaan.

Dirensensi oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang


Identitas Buku:
Judul : Mendakwahkan Smiling Islam; Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat
Penulis : Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D.
ISBN : 978-602-52458-7-9
Tebal : xxiv + 340  hlm
Cetakan         : 2019
Penerbit         : Pustaka Compass

Respon Kreatif Mengurangi Konflik Agama

Sunday, 3 November 2019

Oleh Fathurozi

Umat Islam selama ini melanggengkan ibadah yang bercampur dengan budaya lokal. Semisal, selamatan 7 hari, 40 hari dan 100 hari, tradisi haul, peringatan hari besar Islam, talqin, tahlilan, yasinan, manaqib, ziarah kubur, sekaten, doa bersama setelah salat, puji-pujian, salawatan dan membaca berzanji.

Praktik-praktik seperti itu di tolak Majlis Tafsir Al-quran (MTA) yang perpusat di Surakarta. Mereka beralasan praktik tersebut tidak pernah di contohkan oleh Nabi dan sahabat maka ibadah tersebut termasuk dalam kategori bid'ah, dan semua bid'ah dalam pandangan MTA adalah sesat. Bahkan diancam masuk neraka. Padahal penyebaran agama Islam yang di bawah Walisongo memadukan tradisi lokal dengan dakwah seperti Sunan Kalijaga mengunakan metode Wayang untuk menyebarkan dakwahnya.

Organisasi keagamaan yang mengatasnamakan pemurnian ajaran Islam ini melukai para pengikut organisasi keagamaan lain seperti Nahdlatul Ulama (NU), kalangan tarekat dan Islam kejawen. Tak ayal jika pendirian cabang MTA, sebagian di tolak masyarakat setempat seperti di kota Kudus, Purworejo dan sebagainya (halaman, 113).

Memperkuat ajaranya, MTA mengunakan 24 kitab untuk dijadikan rujukan. Pertama bidang Al-quranur’an/tafsir Al-quran, ada enam rujukan., yaitu: Al-qurandan Terjemahnya oleh Departemen Agama RI, Tafsir Ibnu ‘Abbas oleh Ibnu Abbas, Tafsir Al-quranal AŻīm oleh Ibnu Kasir,  Tafsir Al-Manār oleh Muhammad Abduh (yang kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Rasyid Rida, Al-Jawāhir oleh ṭanṭawīJauharīdan Tafsir Jalalain oleh Jalāl al-Dīn al-Suy ūṭīdan Jalāl al-Dīn al-Mahalli.

Selanjutnya bidang hadis, ada 13 kitab, yaitu: ṡaḥīḥ al-Bukhārī, ṡaḥīh Muslim, al-Musnad, Sunan AbīDaw ūd, al-Mu’jam al-Kabīr, Sunan al-Tirmizī, al-Mustadrak, al-Muwaṭṭa, Sunan al-Nasā’i, Riyāḍ al-Ṡāliḥīn, Silsilat al-Aḥādīs al-ḍa’īfah wa al-Mauḍ ū’ah, Nail al-Auṭār dan Kanz al-‘Ummāl. Terakhir, bidang ilmu kalam/tauhid hanya dua kitab yang dipergunakan oleh MTA, yaitu: Madārij Madārij al-Sālikīn ditulis oleh Ibn Al-quranayyim al-Jauziyah yang merupakan murid Ibn Taimiyah dan al-Firqah al-Nājiyah yang ditulis oleh Muhammad bin Jamil Zainu (halaman 179).

Buku 300 halaman ini membeberkan gerakan keagamaan seperti Persatuan Islam (Persis), Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), al-Irsyad dan MTA mengusung kredo “kembali kepada Al-quran dan Sunnah”. Mereka berkomitmen tinggi mengembalikan kehidupan masyarakat yang Islami berdasarkan Al-quran dan Sunnah. Namun mengingat kapasitas dan kemampuan manusia sangat bervariasi, artinya tidak setiap orang mempunyai kapasitas dan wewenang untuk berijtihad atau mengeluarkan fatwa hukum.

Akulturasi Budaya
Ajaran Islam masuk ke Indonesia melalui pendekatan budaya. Tak heran jika Islam di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, ajarannya berjalan harmonis dengan budaya lokal tanpa adanya gesekan yang mengkhawatirkan. Namun perjumpaan Islam dengan budaya industri-modren, menjadi tantangan bagi umat yang harus direspon secara kreatif, sehingga tidak menimbulkan gesekan yang merugikan kerukunan antar umat beragama.

Respon kreatif pernah dipraktikan oleh Nabi Muhammad saw. Semisal budaya ghilah yang ada di kalangan bangsa Arab sebelum Islam. Ghilah adalah menyebadani isteri yang sedang hamil atau menyusui yang telah mendarah daging pada rakyat. Nabi pernah beringinan melarangnya. Tetapi  mengurungkan niatnya setelah mengetahui bahwa ghilah yang dilakukan bangsa Persia dan Romawi ternyata tidak menimbulkan akibat buruk bagi anak-anak mereka (HR Muslim dari Judzamah binti Wahab).

Contoh yang lain budaya menerangi masjid dengan lampu yang terinspirasi dari Gereja Kristen; dan penerimaannya untuk menggunakan strategi penggalian parit (khandaq) di sekeliling Madinah untuk menghadang musuh, yang diusulkan oleh Salman al-Farisi yang mendapatkan inspirasi dari praktik perang Bangsa Persia.

Dari sinilah terlihat bahwa nabi tidak  hanya mengajarkan tentang Al-quran tetapi melakukan substitusi untuk memperkaya kebudayaan Islam. Hal ini dipertegas dalam Al-quran, 62:2.  Sikap budaya kreatif seperti itu bisa dipastikan termasuk hikmah yang diajarkannya  kepada mereka (halaman 78).
Di sisi lain buku ini menyajikan prinsip kerukunan masyarakat Jawa yang terdapat dalam Serat Wuruk Respati. Pertama kerukunan bukan terletak pada upaya penciptaan keselarasan sosial, melainkan pada usaha untuk tidak mengganggu keselarasan yang (diandaikan) sudah ada. Kedua menuntut setiap individu agar mencegah segala upaya kelakuan yang bisa mengganggu keselarasan dan ketenangan dalam masyarakat. Ketiga penjagaan keselarasan dalam pergaulan dan sebagainya. (halaman 272).

Dalam catatan sejarah Al-quran, menunjukan nabi-nabi yang memiliki kekuatan atau tidak memiliki kekuatan secara militer. Ia lebih memilih jalan damai dalam menjalankan dakwahnya. Semisal Nabi Sulaiman yang memiliki kekuatan besar memilih jalan damai dengan berkirim surat pada Ratu Raba dan Nabi yang tidak memiliki kekuatan  terpaksa mengungsi yakni nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Muhammad.

Konflik bernuasa kebenaran akan menimbulkan ketegangan di kalangan organisasi keagamaan di Indonesia. Hal ini umat Islam bisa saja tersingkir dari panggung sejarah dunia karena mengalami keterasingan dan kegagapan dalam  menjalani kehidupan beragama.


Dirensensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang


Identitas Buku

Judul :  Harmonisasi Umat Beragama
Penulis : Hamim Ilyas, Dkk.
Penerbit         : CV. Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Tahun : Cetakan I, Desember  2012
Tebal : x+300 halaman
ISBN : 978-602-7731-24-0

Memperlakukan Musuh dengan Cinta

Sunday, 27 October 2019

Oleh Fathurozi

Konflik antar umat Islam dan Kristen sudah terjadi sejak lama, tak ayal konflik berbau agama ini sering berulang kali melanda umat di belahan dunia. Semisal bulan ini damai, bulan depan bentrok. Kelihatannya permasalah ini tak ada ujungnya. Mari kita cermati perang salib V yang terjadi pada abad 12 di mesir antara Malik al-Kamil, sultan Mesir dan santo Fransiskus.

Pada 1216 M, Paus Paus Innosensius III berhasil mendorong sejumlah orang Eropa untuk kembali melancarkan serangan ke Yerusalem agar bisa merebutnya dari Ayyubiyah. Friedrich II  dilarang ikut perang salib, bagi Paus, perang salib ini untuk Paus, bukan untuk raja.

Pasukan salib pergi ke selatan, mengikuti rencana awal Perang IV. Pada 1218 M, pasukan salib bersekutu dengan sultan Seljuk Kay Kaus I, dan menyerang pelabuhan Damietta di Mesir. Mereka melakukan pengepungan yang lama, dan banyak orang di kedua pihak yang meninggal akibat penyakit. Pada 1219 M, Damietta akhirnya jatuh ke tangan Tentara Salib, penduduknya yang tadinya 80.000 jiwa tinggal 3.000 saja. Namun memunculkan konflik baru diantara pimpinan mereka (halaman 44).

Malik al-Kamil, Sultan Mesir, mengerahkan pasukan dari Mesir untuk mematahkan pengepungan dan mengirimkan pasokan ke dalam kota. Namun, tak berhasil menembus pasukan Tentara Salib terhadap Damietta. Akhirnya dia pun menawarkan sebuah perjanjian damai, dia bersedia menyerahkan kembali Yerusalem dan wilayah-wilayah lain yang pernah direbut oleh Salahudin kepada Tentara Salib, asalkan mereka menarik mundur pasukannya dari Damietta.

Namun tawaran damai dari Sultan al-Kamil sekali lagi ditolak. Kardinal Pelagius dan para pimpinan Tentara Salib yang ambisius ingin terus menyerang Mesir demi menaklukkan kota itu seluruhnya sehingga perang dilanjutkan. Tentara Salib yang terus bergerak maju ke wilayah Mesir, terjebak dalam rawa-rawa Sungai Nil. Mereka tidak paham medan Sungai Nil yang rumit, oleh karena itu pasukan Sultan al-Kamil berhasil mengepung mereka dan memutus jalur pasokannya dari garnisun di Damietta sehingga tentara salib kalah. Namun sang Sultan lebih memilih jalur damai (halaman 104).

Setelah tawaran perdamaian Sultan di tolak, perang berlanjut. Francis tak tega melihat semua ini, kemudian ia pergi menemui Sultan. Sultan menyambutnya dengan hangat penuh keakraban. Bahkan mengizinkannya berkhotbah di hadapan dirinya dan para penasihat keagamaannya sehingga terjadi dialog antar agama dan akhirnya pulang dengan selamat.

Pertemuan itu mendorong gagasan revolusioner di kalangan Kristen bahwa untuk mengubah keyakinan seseorang bukan dengan peperangan. Bagi Francis memperlakukan  musuh dengan cinta, menolak untuk merendahkan Islam atau pengikutnya. Jalan menuju perdamaian adalah bagi kita semua, bukan hanya pejabat pemerintah yang memimpin.

Setelah Francis dan sultan mati, cerita beredar di kalangan para Fransiskan bahwa pendiri mereka telah berjanji untuk mengirim biarawan untuk al-Kamil sekarat sehingga ia bisa dibaptis, kisah ini terus muncul hingga abad 14. 

Selama bertahun-tahun, cerita itu hanya samar-samar terdengar. Konflik Santo dengan Sultan berbau politik dan agama. Namun padakhirnya kedua berdamai dengan pendekatan diplomasi. Lebih dari petualangan dramatis, inilah kisah pergulatan orang kudus dan pendosa, kesetiaan dan pengkhianatan, serta cerita perang yang menggetarkan.

Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Identitas
SANTO DAN SULTAN: KISAH TERSEMBUNYI TENTANG JURU DAMAI PERANG SALIB
Penulis : Paul Moses
Penerbit           : Alvabet
Cetakan : I, Desember 2013
Tebal : 440 halaman
ISBN : 978-602-9193-40-4
Harga : 65.000,00


Ucapan Terima Kasih Mendatangkan Finansial

Sunday, 20 October 2019


Oleh Fathurozi


Kehancuran mulai menghantui John Kralik mulai dari perusahaannya bangkrut, ditambah lagi hungungan rumah tangga kurang harmonis. Akhir keluarganya berantakan akibat perceraian. Bahkan untuk menghidupi dirinya pun tak bisa karena tak memiliki uang sepersenpun. John terpaksa menempati rumah yang tanpa pendingin (AC). Namun tetap tabah menjalani hidup sehari-hari.
Kehancuran karirnya mulai tahun 2007, pada tahun 2008 John berkeyakinan hidupnya akan berubah lebih baik, jika pandai bersyukur. Ketika menjelajahi gunung di atas Pasadena, lalu tergelincir. Saat tergelincir John mendengar suara "Sampai Anda belajar untuk bersyukur untuk hal-hal yang Anda miliki," katanya, "Anda tidak akan menerima hal-hal yang Anda inginkan."
Setelah kejadian itu John teringat hadiahnya yang pernah diberikan kakeknya berupa dolar perak. Kakeknya pernah mengatakan ia akan menerima dolar perak lain, jika ia menulis surat ucapan terima kasih, dia menindaklanjuti permintaan sang kakek dengan menulis surat ke dua, tiap tulisanya memperoleh dolar perak.
Suatu ketika Dia menerima surat bertulisan tangan dari orang yang sepesial dalam hidupnya, kemudian John mulai bangkit membangun proyeknya. Dia pertama kali menulis surat ucapan terima kasih yang ditujukan pada anakanya. Namun ia baru menyadari bahwa ia tak tahu alamat anaknya. Untuk menjaga dirinya, dia mengatur apapun yang terjadi, bahkan tiap hari selalu menulis ucapan terima kasih, Jika hitung-hitung John dalam setahun menghasilkan 365 tulisan ucapan terima kasih.
Ucapan terma kasih sebanyak 365 telah diselesaikan, ia belajar bersyukur dalam kehidupan. Bahkan John mengakui cinta anak-anak padanya membuat hidup sudah lebih kaya dan selalu bersyukur.
Setiap menerima pemberian dari orang terkasih atau teman kerja, dari rekan bisnis atau saingan usaha, dari kawan kuliah dan guru, dari pembantu dan tetangga, orang lain, ia selalu menulis ucapan terima kasih.
Ternyata dari tulisan ucapan terimaksih ia memperoleh manfaat mengejutkan mulai finansial hingga persahabatan sejati, dari peningkatan kesehatan hingga kedamaian batin. Jangan sungkan-sungkan mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantu kita, karena ucapan ini membawa keberkahan bagi diri sendiri dan mempererat pergaulan di masyarakat.
Efek Terima Kasih adalah memoar langka, pesannya menyentuh dan mudah dicerna disampaikan secara lugas dan apa adanya dari orang biasa. John Kralik menyuguhkan contoh menakjubkan perihal bagaimana mengubah hidup menjadi lebih baik dengan cara yang sangat mudah.
Buku ini mencoba menghidupkan kembali rasa syukur dalam diri kita, bahkan pembaca akan terinspirasi memperoleh ketenangan jiwa jika mengucapkan terima kasih tiap tindakan dan tingkah laku.
Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Identitas Buku
EFEK TERIMA KASIH
Penulis          : John Kralik
Penerbit         : Alvabet
Cetakan          : I, Mei 2014
Tebal            : 282 halaman
ISBN             : 978-602-19854-7-2

Dangdut Budaya Indonesia

Sunday, 13 October 2019


Oleh Fathurozi

Presiden Soekarno ikut andil dalam mempopulerkan musik dangdut. Saat itu bapak proklamator mengecam pengaruh budaya barat yang berbau komersial yang menjajah musik india dan timur tengah. Dengan sikapnya, dangdut hadir sebagai bentuk diolag antar budaya global. (hlm. 74-86).
Pada tahun 70-an musik dangdut dianggap musik orang urban, lambat laun dangdut unjuk gigi kepermukaan melalui televisi pendidikan indonesia (TPI) musik ini semakin populer, orang kelas menengah ke atas menjadi penggemarnya. Kepopuleran dangdut dimanfaatkan politisi untuk menghalang massa karena dangdut telah merakyat.

Awal tahun 1960-1970 musik dangdut disebut sebagai rock dangdut yang dimotori oleh Rhoma Irama, Mara Karma, dan Nano Romansya. Selanjutnya pada era 1990-2000 musik dangdut terbagi dalam pop dangdut, disco dangdut, dangdut standar, dangdut Mandarin, dan dangdut daerah (hlm180). Tahun 1980-an syair-syair dangdut cenderung berlirik nestapa dan identik dengan goyangan.

Dangdut yang bercirikan goyangan tak mendapatkan hak syiar di televisi pemerintah (TVRI) tahun 1992. Karena penyanyi dangdut perempuan dalam bergoyang terlalu fulgar, semisal judul lagu “gadis atau janda dan “jagung bakar” dicekal pemerintah dianggap memperburuk citra bangsa (hlm 188).

Buku berjudul Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia mencoba mengupas para pedangdut Indonesia seperti Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Mansyur S, Munif Bahasuan, A Rafiq, Ellya Khadam, Rita Sugiarto, Camelia Malik dan pedangdut lainnya termasuk musik dangdut yang begitu tenar. Dari sini diketahui lika liku perjalanan dangdut di Indonesia.

Rhoma Irama yang konsisten melestarikan musik dangdut yang mengadung pesan moral. Bagi Rhoma musik dangdut tidak semata-mata dijadikan hiburan tapi gunakan media dakwah (hlm 11). Raja dangdut memiliki 307 judul lagu, adapun perinciannya yaitu pertama 150 judul lagu berisi tentang wejangan apa artinya menjadi manusia. Kedua  57 judul lagu, menyampaikan akhlak religius yang kuat. Ketiga 29 judul lagu tentang akhlak tanpa membedakan agama. Keempat 20 judul lagu tentang percintaan. Kelima 24 judu lagu, mengisaratkan kehidupan masyarakat dan politik. Terakhir 20 judul lagu kehidupan sehari-hari (hlm.100).

Dengan tebal 302 halaman yang ditulis Andrew N. Weintraub, merupakan buku hasil penelitian tentang genre musik dangdut termasuk  jenis musik yang belum tergarap secara mendalam oleh sarjana Indonesia. Dia mengatakan alat-alat musik  dangdut hasil dari akulturasi budaya melayu, eropa, india dan timur tengah .

Pada Bab tujuh mengungkap fenomena goyang ngebor, iman bocor, Islam, politik tubuh, dan dangdut pasca-Soeharto. Goyang heboh Inul Daratista mendapatkan kecaman dari berbagai pihak yakni Goyang ngebor Inul di fatwakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majelis Mujahidin beserta ormas-ormas Islam memprotes keras acara ditelevisi swasta yang bertajuk “Duet Maut. Bahkan superstar dangdut Indonesia (Rhoma) mengutuk keras aksi Inul karena bertentangan dengan akidah Islam (hlm200-201).

Ketika Inul manggung di Kalimantan Selatan, Ia bertemu guru Ijai, seorang kiai karismatik yang sangat dihormati masyarakat Kalimantan, bahkan seluruh Indonesia. Guru Ijai menganggap inul seperti anaknya sendiri, Ia mendoakan Inul, semoga Inul dapat masuk surga, tidak menghiarukan gunjingan atau apapun yang terjadi. Jalan terus karena kamu bekerja mencari nafkah. (hlm.219).

Buku ini secara khusus merupakan sumbangan besar dari seorang Weintraub, seorang musikolog dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat. Ia berjasa besar telah meneliti dangdut secara mendalam, baik dangdut sebagai musik rakyat. Musik sesungguhnya memiliki beberapa fungsi.
Buku ini memberikan informasi yang amat penting bagi yang ingin meneliti dangdut dan dapat dijadikan referensi.  Namun data-data yang telah diperoleh kurang dikaji secara mendalam. Setidaknya hadirnya buku ini dapat memberi jalan bagi mereka yang ingin menggeluti genre musik dangdut.   

Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang


Identitas Buku
Judul : Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia
Penulis : Andrew N. Weintraub
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia,
Cetakan : Pertama April 2012,
Halaman : x + 302
ISBN : 9789799104373

Kebudayaan Melanggengkan Kekuasaan

Sunday, 6 October 2019


Oleh Fathurozi
Saat ini, pemerintah sedang mengodok rancangan Undang-undang kebudayaan. Namun rancangan tersebut menemuai kritik dari kalangan pengiat seni, karena tidak dilibatkan dalam pembahasan. Polemik kebudayaan sebenarnya sudah terjadi sejak zaman penjajahan hingga era reformasi. Kelihatannya pegiat kebudayaan tidak bisa di lepas begitu saja, tetapi terkurung dalam rezim kekuasaan.

Penjajahan Belanda ikut berperan dalam mengacak-acak kebudayaan bangsa Indonesia, karena rezim ini membedakan perlakuan antara masyarakat Eropa dan masyarakat pribumi.

Tindakan ini dilakukan untuk mensensor bacaan buku pribumi. Kemudian Kedatangan Jepang juga membawa pengaruh pada budaya Indonesia. Meskipun kebijakan budaya Jepang berhasil mempengaruhinya. Namun Indonesia tidak  menerima gagasan budaya Pan Asia atau budaya Jepang tiruan.

Dengan menolak kebudayan Jepang maka lahirlah kebijakan budaya Indonesia, ditandai dengan dirikan kantor Commissie voor de Volkslectuur  tahun 1908, lalu tahun 970 dijadikan sebagai lembaga yang mengkaji permasalahan bacaan populer. Tahun 1920 didirikan Balai Pustaka, (halaman 313).

Era pendudukan Jepang sebagai medan perang kebudayaan, (halaman 67). Tak heran jika pegiat kesenian membentuk persatuan ahli gambar Indonesia (Persagi), lalu bekerjasama dengan gerakan nasionalis mengobarkan pesan-pesan kebudayaan Indonesia dalam karya seni. Namun ketika Jepang menyerbu persagi dibubarkan. Akhirnya seniman besar pada era tahun 1940-an dan 1950-an berafiliasi dengan Poetra atau pusat kebudayaan Jepang. Meski mengunakan teknik barat, namun seniman Indonesia selalu bertentangan dengan budaya barat, (halaman 75).

Buku berjudul “Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia, Kebijakan Budaya Selama Abad ke 20 Hingga Era Reformasi” karya Tod Jones. Buku ini membeberkan rezim yang berkuasa selalu memanfaatkan kebudayaan untuk kepentingan politik. Tak ayal tiap pergelaran seni selalu disisipi pesan-pesan dari pemerintah. Seakan-akan budaya tak bisa lepas dari kekuasaan.

Tod Jones menceritakan kebijakan Budaya orba masih mengakar pada birokrasi budaya nasional. Namun berlahan-lahan pengaruhnya mulai menurun akibat adanya pematahan kebijakan budaya, (halaman 231). Budaya digunakan oleh Soeharto untuk menopang kelangsungan kekusaannya.

Ironis lagi seniman daerah yang berkarya harus tunduk dan di dorong untuk memasukan pesan pemerintah dalam karya mereka. Bahkan seniman-seniman yang terkait dengan partai politik kiri atau partai lainnya mendukung Soekarno pada tahun 1960-an dibunuh, dipenjara dan dilarang melakukan pertunjukan, (halaman 208).

Kelihatannya hingga sekarang bijakan budaya budaya masih menjadi polemik antara pemerintah dan para pekerja budaya. Buku karya Tod Jones menarik dibaca bagi para pegiat kebudayaan karena buku ini menghadirkan kondisi realita kebudayaan di daerah. Setidaknya buku ini memberikan pencerahan rezim kekuasaan masih mengendalikan kegiatan kebudayaan.

Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang


Judul : KEBUDAYAAN DAN KEKUASAAN DI INDONESIA,
                  Kebijakan Budaya Selama Abad ke 20 Hingga Era Reformasi
Penulis : Tod Jones
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2015
Tebal : 356 halaman
ISBN : 978-979-461-885-1

Mengkritik itu Mudah, Yang Sulit Memberikan Solusi

Sunday, 29 September 2019


Oleh Fathurozi
Cover buku "Kritik Tanpa Solusi, Memoar Anomali dan Teologi Zaman." Menarik pemabaca, apa lagi judul yang bikin penasaran. Kesan yang tampak berani mengkritik tapi tak memberikan solusi. Mengkritik itu mudah, sebaliknya solusi itu sulit karena mengkritik tidak butuh musyawarah, sementara solusi membutuhkannya (halaman 526). Padahal kritik dan solusi saling berkaitan, solusi muncul dari adanya kritik.
Bagi orang yang pola pikir egois akan mengatakan kritik tidak harus selalu memberikan solusi. Kritik yang tidak dibarengi dengan solusi akan menimbulkan beragam asumsi. Semisal demo mahasiswa, yang tiap aksinya selalu mengkritisi kebijakan pemerintah.
Menuntut solusi dalam setiap kritik sama halnya menjerumuskan diri dalam masalah yang lebih rumit karena belum tentu keinginan pribadi yang tercermin dalam gagasan kritik mencakup masalah bersama. Kritik yang demikian bukan membawa kemajuan (konstruktif), namun kemunduran (destruktif) (halaman 527).
Pada sub pembahasan "Teologi Kampus dan Amanat Pendidikan,” mengulas tentang kondisi intelektual mahasiswa di Indonesia, bahkan penulis lebih genit mengatakan mahasiswa memiliki empat dosa besar. Dosa besar yang dimaksud yakni tidak suka membaca,  tidak berdiskusi, malas bersosialisasi dan malas menulis. Hal ini dikarenakan mahasiswa dilanda sikap hedonisme dan sikap pragmatis sehingga sikap nalar intelektualnya sirna (halaman 10).
Mahasiswa terkena dosa tersebut akan megalami kualitas keilmuan minim dan kesulitan mencari pekerjaan. Kesalahan ini tak semata-mata disematkan pada mahasiswa tetapi pihak kampus juga harus ikut tanggung jawab karena kurang mampu menciptakan sarjana-sarjana yang memiliki wawasan luas dan jiwa intelektual.
Buku karya M. Abdallah Badri membeberkan faktor penyebab tenggelamnya intelektual mahasiswa. Pertama kapitalisasi pendidikan yang semakin meluas. Kedua kuliah  oriented, mahasiswa lebih memilih menyelesaikan tugas kuliahnya daripada menjadi aktivis sosial yang kritis. Ketiga minimnya apresiasi kaum kritis, para aktivis cenderung dijauhi kebanyakan masyarakat kampus (halaman 53).
Namun jika mahasiswa melakukan kesalaham itu hal yang wajar karena masih belajar tapi sebaliknya ketika sudah menyandang gelar sarjana masih melakukan kesalahan berarti kurang ngajar.
Kemudian sub "Budaya Populer Dan Teologi Urban," menyajikan orientasi masyarakat yang  terkena virus kapitalistik dan individualistik. Jika menunggu campur tangan pemerintah untuk mengatur mekanisme nalar semacam itu jelas akan menghabiskan energi, sebab ini adalah wilayah budaya, bukan  wilayah politik, apalagi politik budaya.
Lain lagi dengan kekuasaan darah biru melahirkan rasionalisme tidak mungkin mencapai substansi kesejahteraan yang  sesungguhnya manakala semiotika kekuasaan dalam darah biru masih mengakar kuat dalam paradigma budaya massa, yang selalu melihat bobot dari bibit semata (halaman 106).
Lalu sub “Nalar Agama, Ritual Agama dan Politik Keberagaman.” Mengambarkan tentang ritualitas keagamaan di masyarakat kurang menyetuh substansi dan kualitas iman dan kurang pemahaman praktik-praktik keagamaan. Masyarakat berpandangan sudah berkurban dianggap sudah memberikan kontribusi besar kepada agama dan orang sudah haji, rukun Islam dianggap sudah sempurna (halaman 235).
Dengan tebal 392 halaman. Buku ini terbagi dalam tujuh kelompok. Pertama, Teologi Kampus dan Amanat Pendidikan. Kedua, Budaya Populer dan Teologi Urban. Ketiga,  Nalar Agama,Ritual Agama dan Politik Keberagaman. Keempat, Teologi Perempuan dan Gender Kosmopolitan. Kelima, Filsafat dan Politik Teknologi. Keenam, Teologi Politik dan Kritik Kekuasaan. Ketujuh, Buku dan Biografi Kegelisahan.
Dari sub ke sub pembahasan buku ini, menyoroti peristiwa yang menyita perhatian khalayak umum mulai bidang pendidikan, politik hingga sosial keagamaan. Bahkan kondisi daerah kelahiran tak luput dari bidikannya. Tulisan cukup berbobot karena rata-rata penulisan melalui pengamatan realita yang sedang terjadi dan diperkuat dengan referensi buku.
Dalam sinopsi buku ini, ketika ada kritik, ada kegelisahan peradaban. Indonesia menjadi bangsa yang cengeng karena mudah menghardik kritik. Lebih fokus kepada solusi daripada fokus ke masalah, itu baik, namun tanpa menguliti masalah dengan kritik, solusi hanya salep kesembuhan sementara.
Tulisan-tulisan berbentuk artikel esai pada buku bunga rampai ini, sebagian besar karyanya telah dimuat media massa seperti Koran Jakarta, Kompas, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Radar Surabaya, Lampung Post, Suara Merdeka, Wawasan, Harian Semarang dan sebagainya.  Meskipun pernah beredar di publik namun tak mengurangi selera membaca buku tersebut  karena penuh kritik dan solusi yang bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. 
Diresensi Fathurozi,  Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang)

Identitas Buku
Judul               : Kritik Tanpa Solusi (Memoar Anomali dan Teologi Zaman)
Penulis            : M Abdullah Badri
Penerbit         : Diroz Pustaka, Semarang
Cetakan          : I, Oktober 2012
Tebal              : xii+392 halaman
ISBN                : 978-602-77010-6-9

Ketika Sang Kiai Terlibat Politik

Monday, 23 September 2019

Oleh Fathurozi

Perkataan kiai atau ulama dipatuhi pengikutnya. Tak ayal kiai digandeng oleh partai politk atau calon kepala daerah untuk menjelung suara. Semisal pemilihan Gubernur DKI, Rhoma Irama mengeluarkan perkataan yang mengandung kekerasan suku, ras, agama, antargolongan (SARA).

Kasus di atas sebenarnya pernah terjadi pada pemilu 1977. Saat kampaye kiai Bisyri Syamsuri di hadapan ribuan massa melontarkan bahwa setiap muslim diharuskan memilih partai Islam. Ini menandakan Islam memberikan jalan bagi penganutnya  untuk ikut terlibat dalam kehidupan berpolitik (halaman 58).

Kiai diposisikan sebagai pewaris Nabi. Kiai mempunyai pengaruh dan kedudukan sangat terhormat karena memiliki pengetahuan luas dan mendalam tentang Islam, sehingga menjadikan kiai memiliki otoritas yang layak dihormati dan segani tanpa reserve, sami’na wa atho’na (kami mendengar dan patuh).

Kehadiran kiai di tengah-tengah masyarakat begitu penting yaitu. Pertama, mobilitas kiai sangat tinggi dalam membangun jaringan dengan komunitas di luar, sehingga santri dan masyarakat mendapatkan informasi baru. Kedua, keberadaan kiai di salah satu desa menjadi sumber rujukan problematika persoalan agama. Ketiga, kiai umumnya memiliki kelebihan yang bersifat material dibanding dengan masyarakat sekitar.

Tak heran, jika kiai dijadikan rebutan oleh parpol untuk menjadi pembina partai karena kiai dianggap memiliki peran mempengaruhi pemilih dan kiai digandeng untuk memenangkan capres dan cawapres. Semisal pemilu 2004, Wiranto mengandeng  Salahuddin Wahid (adik kandung Gusdur) dan Megawati Soekarnoputri berpasangan Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU 1999-2004). Namun mereka gagal meraih kursi R1 dan R2. Meskipun gagal dalam pencalonan, pengikutnya tetap setia atau mematuhi apa yang dikatakan seorng kiai.

Apapun yang dikatakan oleh kiai akan dijadikan referensi dalam kehidupan, bahkan hingga ke dunia politik. Padahal jika seorang kiai menjadi pejabat publik, pengikutnya kurang menikmati hasil dukungannya. Menguatnya kultur paternalistik, rujukan keagamaan dianggap sebagai presentasi sikap hidup, terkadang pilihan politik masyarakat  berhubungan dengan sikap kiai.

Dengan tebal 179 halaman, menyajikan kiai diibaratkan makelar simbol yang berperan menerjemahkan bahasa politik ke dalam bahasa agama sehingga dapat dipahami para jama’ahnya. Hal ini untuk meraih  simpati masyarakat agar memilih sesuai dengan politik yang dikehendaki oleh kiai. Namun daya tarik kiai pasca orde baru menurun karena cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya (halaman 82).

Buku ini membeberkan, fatwa politik seorang kiai tidak lagi dianut masyarakat karena sekarang masyarakat mengacu pada pertimbangan visi misi (seorang calon), program partai dan kapabilitas, akuntabilitas dan kredibilitas partai (seorang calon). Pertimbangan mereka semata adalah nilai agama berupa moralitas seorang tokoh dan mengikuti fatwa politik sang kiai secara otomatis tidak memberikan garansi yang benar (halaman 149).

Kiai yang terjun ke politik berdampak yakni pertama merosotnya karisma yang dimiliki, otoritas keagamaan akan semakin terkikis. Kedua peran yang sebagai benteng moral menjadi taruhan karena keterlibatan kiai. Predikat seorang teladan umat dengan sendirinya akan tercabut dari legitimasi sosial masyarakat (halaman 102).

Dalam sinopsis buku ini diterangkan kiai kerap diposisikan sebagai pressure group dan rulling clas yang pengaruhnya dapat melampaui pemimpin formal. Namun pasca reformasi persepsi masyarakat terhadap kiai mulai pudar tak istimewa dulu.

Kini pandangan masyarakat terhadap kiai berpolitik, moralitas kepemimpinan merosot karena politik dijadikan media meraih kekuasaan daripada penegakan amar ma’ruf nahi munkar sehingga fatwa-fatwa kiai yang mengenai agama tak  dihiraukan umat. Buku ini hadir sebagai pelengkap buku penelitian yang mengenai tentang politik kiai.

Diresensi oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Identitas Buku:
Judul : Politik Kiai Vs Politik Rakyat Pembacaan Masyarakat terhadap Prilaku Politik kiai
Penulis : Muhibbin
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Tahun : Cetakan I, 2012
Tebal : xvi+179 halaman
ISBN : 978-602-229-083-4

Chipumzilla, Alat Pencegah Korupsi

Monday, 16 September 2019

Oleh Fathurozi

“Berkali-kali pemerintah gagal mengamalkan pasal 33 UUD 45, bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kau telah mencoba melakukan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan siapa pun yang menjadi Presiden Republik Indonesia. Tapi tangan takdir menghentikan mu ketika kau berusaha menasionalisasi semua asset Negara.”

Petikan dialog di plot pertama cukup menghendak pembaca. Novel karya Joko santoso HP, lahir dari pengamatan selama menjadi DPR. Sewaktu kuliah, ia mencoba membongkar skandal manipulasi yang dilakukan oleh pimpinan fakultasnya, atas keberaniannya, ia dikenakan sanksi akademik tidak boleh mengikuti ujian. Pihak biroksi akan memaafkan, jika Joko menandatangi surat permohonon maaf. Tapi Joko lebih memilih keluar dari kampusnya.

Joko Santoso Handipaningrat memiliki nama pena Joko Santoso HP, merupkan aktifis mahasiswa yang berani menyoroti kebobrakan pemerintah Orde Baru, akibat sikap kritisnya. Ia dijebloskan dua klai ke penjara.

Novel ini menceritakan dua aktifis mahasiswa bernama Jeihan Prakoso (Jei)  dan Broto Dimas (Bro). Bro mahasiswa berfikir kritis, idealis. Ia selalu mengkritik kebijakan  kampus dan pemerintah yang kurang  memihak kepentingan umum. Jei seorang konseptor yang selalu membantu Bro dalam setiap aksinya. Dua sahabat ini, selalu bersama dalam melakukan aktifitas, semisal ketika Bro menjabat ketua Dewan Mahasiswa, sudah pasti sekretarisnya Jei.

Bro berpacaran dengan Rastri, tapi orang tuanya Rastri tidak merestuinya hubungan mereka berdua, karena Bro penjahat politik yang selalu menentang pemerintah. Cinta mereka berdua kandas dijalan. Sementara itu Jei yang berpacaran dengan Meranti, berlanjut kepelaminan.

Mereka hidup di negeri gurita koruspi, rakyat semakin menderita dan angka kemiskinan meningkat dan para pimpinanya mengutamakan kepentingannya sendiri, seakan negeri virus. Melihat semua ini Bro mengajak teman-teman aktifis di kampus melakukan aksi di gedung DPR. Dalam aksinya para pedemo memaksa masuk, tapi penjaga keamanan tak mengizinkan, sehingga terjadi bentrok fisik.

Aksi itu, berdampak Bro dijebloskan ke tahanan Salemba, setelah ia  keluar dari tahanan., Ditawari beasiswa oleh Rudolf yang mengaku utusan dari staf foundation yang bertugas mengurusi beasiswa mahasiswa untuk meneruskan ke sekolah ke luar negeri. Bro tak lantas menerima tawaran itu, Ia berdiskusi dulu dengan Jei, Jei meragukan asal asul biasa itu karena ia tak ingin idealisme tergadai, gara-gara menerima beasiswa, namun Bro beda pendapat temannya sehingga terjadi keributan keduanya. Akhirnya, Bro menerima tawaran beasiswa. 

Kemudian Bro melanjutkan sekolah di Jerman, Ia memilih Humboldt Universitat. Di negeri ini pula, Bro berkenalan dengan Keike Piagora, mahasiswi Freie Universitat, hubungannya berlanjut hingga kepernikahan. Ketika itu, keraguan asal usul beasiswa terjawab, ternyata semua itu diatur  oleh ayah Keike, Stanley Alfreed, Kolonel Angkatan Darat, menyodorkan tawaran kepada Pak Broto (ayah Bro). Bro merasa konspirasi oleh kedua Jendral, ia menyesal, kebanggaan sebagai mahasiswa runtuh tak lebih dari mahasiswa oportunis, tapi ia bertekad mengembalikan semua biaya kuliahnya.

Bulan Mei orde baru tumbang, berkat kekuatan mahasiswa menginginkan berubahan. Reformasi dimulai orang bebas mengeluarkan pendapat, berserikat. Kabar ini menarik Bro, ia mendirikan Partai Ibu Pertiwi(PIP), Jei juga terlibat dalam partai ini atas permintaan Bro. Partai Ibu Pertiwi(PIP), yang ikut hadir meramaikan Pemilu di era Reformasi. akhirnya, PIP memenangkan pemilu.

Atas kemenangan berhak mengajukan calon presiden, PIP mencalonkan Bro dan pasangannya (Ridwan Ganies) sebagai capres-cawapres. Akhirnya kemenangan mutlak oleh pasangan ini, dengan keputusan Broto Dimas sebagai Presiden dan Ridwan ganies sebagai Wakil Presiden.

Sejak dilantik menjadi Presiden, Bro tancap gas, membenahi sistem pemerintahan yang caru-marut. Ia berpendapat kegagalan suatu Negara terletak pada prilaku manusianya, maka dari itu, Bro menerapkan dua program. Pertama program awasi pemimpin (APEM) yang ditujukan memperbaiki prilaku pejabat Negara yang telah menyimpang jauh dari cita-cita Negara Indonesia.

Kedua, pemasangan chip Chipumzilla, ketubuh para anggota DPR, menteri dan presiden, bertujuan mengawasi aktifitas yang bekaitan tingkah laku menyimpang. Gerak geriknya ditampilkan dilayar monitor, dilengkapi speaker server yang dipasang diseluruh taman di pelosok Tanah Air.

Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam sinopsisnya. Ia mengatakan, dengan menempatkan Bung Hatta sebagai idola, penulisnya masih punya harapan bahwa masa depan Indonesia masih bisa diselamatkan oleh anak-anaknya yang tidak hanyut dalam arus idealisme musiman.

Novel sejarah yang sangat menarik untuk di baca dan layak dibaca oleh aktifis mahasiswa, dan aktifis anti korupsi karena novel ini memberikan pesan moral dalam perjuangan idealis yang penuh pengorbanan cinta, harga diri dan harta sehingga tercipta aktifis sejati.

Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Identitas Buku:
Judul : Opera Indonesia
Penulis : Joko Santoso HP
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : Cetakan I 2012
Tebal : 282 halaman
ISBN : 978-979-22-8036-4
Harga : Rp. 55.000,-

Alternatif Penghayatan Keberagamaan di Indonesia

Friday, 6 September 2019


Oleh Fathurozi


Penganut agama mayoritas sering mengklaim bahwa Dia lah yang berhak menduduki jabatan presiden, anggota DPR, Menteri, Gubernur, Jenderal karena merasa memiliki kebenaran Tuhan dan sebaliknya. Sehingga memunculkan gejolak di kalangan penganut agama lain hingga sekarang. Semisal pilkada DKI.  Padahal keberadaan suku, agama, ras dan golongan dihadapan Tuhan sama, tak ada satu pun yang diistimewakan Tuhan.

Kelihatannya problem agama di Indonesia tak akan pernah usai, jika masih mewarisi agama eksklusivisme berdampak pada penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Berdasarkan Universal Declaration of Human Rights di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1948 memberi jaminan kebebasan seorang individu untuk mengekspresikan dirinya secara utuh, dalam bidang keagamaan, politik, ekonomi dan sosial. Namun pelaksanaan para penganut agama tak mengindahkan kesepakatan itu (halaman 2).

Jika kita ditengok perjalanan keberagamaan di Indonesia seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 dengan implikasinya terhadap batang tubuh UUD 45. Pertama kata Mukadimah diganti kata Pembukaan. Kedua “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…” diganti “Ketuhanan Yang Maha Esa...”

Ketiga pasal 6 “Presiden ialah orang Indonesia asli beragama Islam,” diubah menjadi “Presiden ialah orang Indonesia asli.” Lalu pasal 29 ayat 1, “Negara berdasarkan ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…” diganti menjadi “Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa...” Terakhir “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” diganti menjadi “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa...” (halaman 31)

Dengan hadirnya kenyataan bangsa dan negara Indonesia tahun 1945 dengan religiositasnya itu, hadir suatu bentuk keberagamaan yang melampaui batas-batas konvensional yakni religiositas yang transformatoris karena ia menuntut pemahaman yang melewati batas kebenaran ajaran dan dogma hasil pergumulan manusia dalam agama-agama tertentu dan menempatkan diri sebagai manusia yang bertuhan,(halaman 59).

Secara budayawi konsep Tuhan dan Ketuhanan Yang Maha Esa disebut Pancasila. Konsep ini hasil dari dinamisme sosial historis bangsa Indonesia terhadap keragaman budaya dan memenuhi kebutuhan utama manusia. Semisal tiap individu menjadi sederajat (equally) dan manusiawi (humanly), (halaman 153).

Konsep tersebut merupakan konsep inklusif dan transformatif sehingga menciptkan beradaban baru yang mengizinkan kelompok minoritas diperlakukan sederajat. Jika dibandingkan dengan agama-agama besar di dunia, peradaban di Indonesia paling unik. Namun terkadang konsep ini di nodai oleh beberapa pemimpin Indonesia melalui praktek-praktek diskriminasi terhadap masyarakatnya sendiri, (halaman 154).

Buku “Religiositas di Alinea Tiga, Pluralisme, Nasionalisme dan Tranformasi Agama-agama” membeberkan semua rakyat Indonesia memiliki hak menjadi presiden karena rakyat Indonesia adalah mereka yang tersebar dari Sabang sampai ke Maluku dengan agama mereka masing-masing, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, juga Kaharingan, Aluk ta dolo, Perbegu, Marapu.

Para pemeluk agama mengakui ada suatu kekuatan yang melampaui keberadaan mereka (transendental) dan bersama-sama mereka menyapa Dia sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, itulah yang memproklamasikan kemerdekaan mereka. Semisal keberagamaan Yahudi Dia disebut Yahweh, dan Islam (Allah S.W.T). Kristen (Allah Tritunggal), Konghucu (Thian), dan Aluk ta dolo dari Toraja disebut Puang Matua.

Sayangnya, generasi penerus bangsa ini melupakan apa yang dirumuskan para pendiri bangsa ini. Semisal kesepkatan 18 Agustus 1945 diundangkan dalam Berita Repoeblik Indonesia tanggal 15 Febroeari tahun 1946. Hal ini terjadi pengingkaran terhadap kesepakatan para pendiri bangsa, yaitu dengan tetap menggunakan kata Allah dalam alinea ketiga pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, (halaman, 40). Hal ini menghilangkan warisan nilai yang terindah bangsa Indonesia, yaitu penghargaan kemanusiaan yang luhur, yang tidak eksklusif.

Di sisi lain para pendiri bangsa Indonesia berhasil merumuskan suatu posisi hubungan antar agama yang tidak eksklusif, berbeda sekali dengan posisi hubungan antar agama yang eksklusif sebagaimana dimiliki agama-agama di dunia. Hal ini menjadi alternatif penghayatan keberagamaan yang dibutuhkan di masa depan.

Buku ini mengunakan pendekatan sosio-historik dalam pembahasan teoretis yang mendalam sehingga dapat dijadikan acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.


Diresensi Oleh Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Judul : Religiositas di Alinea Tiga, Pluralisme, Nasionalisme dan tranformasi agama-agama

Penulis : John A. Titaley
Penerbit : Satya Wacana University Press, Salatiga
Cetakan : Pertama 2013 
Tebal : 194 halaman 
ISBN        : 978-979-8154-49-2






Bantahan Pesantren Lembaga Pendidikan Terbelakang

Sunday, 25 August 2019

Oleh Fathurozi

Bisa dikatakan usia pesantren sama dengan masuknya Islam di Nusantara. Namun sebagian orang beranggapan sistem pendidikan di pesantren ketinggalan zaman karena mempertahankan tradisi kuno dan konservatif. Pandangan ini ada benarnya juga karena kurikulum pesantren hanya mengkaji seputar ilmu-ilmu agama seperti tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh, tasawuf, bahasa Arab  (nahwu, sharaf, balangah, matiq).

Pengajarannya mengunakan metode wetonan-bandongan (kyai membaca, mengartikan dan menjelaskan isi kitab, sedangkan para santri mendengarkan, menyimak dan mencatat keterangan kyai di dalam kitab itu).

Di sisi lain, sistem pendidikan pesantren menerapkan hidup bersama dalam satu lingkungan, menjadikan kiai dan santri tanpa sekat seperti keluarga sendiri. Sekarang sistem ini diadopsi oleh lembaga pendidikan umum, seperti siswanya diwajibkan tinggal asrama.

Buku berjudul "Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan Sistem Pendidikan Pesantren". Buku ini mencoba menipis stigma konservatif atau kolot pendidikan di pesantren. Dari latar belakang ini Soebahar melakukan penelitian di lima pondok pesantren yang berada di Jawa Timur (halaman 16-17).

Kelima Ponpes ini melakukan inovasi metode pengajaran sesuai dengan era modern. Pada mulanya pengajaran tak di evaluasi seperti yang dilakukan oleh pendidikan umum. Namun sekarang menerapkan sistem eveluasi yang mirip dengan pendidikan umum, yaitu dengan mengadakan ujian kenaikan kelas untuk menentukan batas kemampuan santri untuk mengkaji kitab-kitab yang lebih tinggi.

Inovasi yang dilakukan ponpes yakni pola inovasi yang diprakarsai oleh pemerintah, LP3ES dan P3M, dan pola inovasi sporadis (dilaksanakan menurut persepsinya masing-masing) (halaman 51). Namun hal ini juga tergantung pada pendiri, pemilik dan Kiai sebagai penentu arah pesantren.

Tebal buku 244 halaman menguak pesantren memasuki era baru, ditandai dengan fenomena pesantren yang melakukan pengembangan sitem pendidikan untuk menjawab tantangan sosial dan keinginan masyarakat. Tak mungkin problem yang di alami masyarakat dapat diatasi oleh ilmu agama (kitab Kuning) semata. Namun memerlukan keterlibatan displin ilmu umum seperti sosiologi, antroplogi, politik hukum dan teknologi.

Pesantren telah menganut semi modern yakni perpaduan antara tradisional  dan modern. Bercirikan nilai-nilai tradisional masih kental dipegang, kiai masih menempati posisi sentral, norma dan kode etik pesantren klasik tetap menjadi standar pola relasi dan norma keseharian. Namun mengadaptasi sistem pendidikan modern dan sarana fisik pesantren.

Kehadiran buku ini secara tegas membantah anggapan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang konservatif, tradisional, dan terbelakang, dibandingkan dengan lembaga pendidikan non-pesantren. Pada dasarnya telah menerapkannya secara diam-diam dan pelan tapi pasti dalam kurun dua dekade terakhir ini, pesantren telah mulai melakukan pembenahan-pembenahan.

Kiai sebagai komponen terpenting pesantren dalam hal ini memainkan peranan sangat menentukan dalam proses ini. Sebab pada kiai-lah semua keputusan tentang pesantren dijalankan, termasuk reformasi kependidikannya.

Diresensi Fathurozi Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Identitas Buku
Judul : Modernisasi Pesantren Studi Transformasi Kepemimpinan Kiai dan
                          Sistem Pendidikan Pesantren
Penulis : Prof. Dr. Abd. Halim Soebahar
Penerbit         : LkiS Yogyakarta
Cetakan : I, 2013
Tebal : 244 halaman
ISBN : 602-17575-2-1
ISBN : 13 : 978-602-17575-2-9
Harga : 60.000

Jalan Terjal Lahirnya Refomasi

Thursday, 22 August 2019


Oleh Fathurozi

Pada tanggal 11 Mei 1998 dalam forum maiyahan Padhang mBulan di Jombang Cak Nun mengajak jamaah melantunkan wirid dan dzikir bersama. Kemudian dilanjutkan pembacaan hizib Nashr oleh Ibu Chalimah. Soeharto presiden RI hanya mendapatkan kesempatan satu kali lagi untuk mendapatkan indzar dari Allah dan peringatan dari rakyatnya.

Sebelum gerakan mahasiswa turun ke jalan menuntut Soeharto untuk mundur. Forum Padhang mBulan sejak dulu melontarkan teriakan-teriakan mengecam kebijakan Soeharto. Namun teriak-teriakannya kurang mendapat tempat di media massa. Mungkin media takut untuk meliput karena saat itu tidak ada yang berani berurusan dengan Orde Baru.

Lahirnya reformasi ditandai dengan turunnya Soeharto tanggal 21 Mei 1998. Kemudian digantikan B.J. Habibie. Namun  pemerintahannya tidak berlangsung lama karena Habibie dianggap produk Orde Baru. Pada 19 Oktober 1998 diadakan sidang umum MPR bertujuan merespon pidato pertanggungjawaban B.J. Habibie. Ternyata pidato pertanggungjawabannya di tolak. Kemudian menetapkan KH. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Namun pemerintahan Gus Dur kandas ditengah jalan melalui sidang Istimewa. Terakhir, mengangkat Megawati Soekarno Putri sebagai presiden ke 5 sejak 23 Juli 2001.

Buku berjudul “Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto” Karya Emha Ainun Nadjib menceritakan kondisi pemerintahan Orde baru. Bertepatan tanggal 16 Mei 1998, beberapa tokoh nasional seperti Nurchalis Madjid (Cak Nur), Utomo Dananjaya, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ekky Syahruddin dan Fahmi Idris mengadakan pertemuan di Hotel Regent, Jakarta. Pertemuan ini didasari atas kondisi bangsa yang memprihatinkan. Pertemuan itu menghasilkan Draft dengan judul  “Khusnul Khatimah”.

Draft itu berisi pertama reformasi dalam kerangka sistem Orde Baru. Kedua Reformasi dalam kerangka sistem yang sama sekali lain dari sistem Orde Baru. Artinya soeharto akan digantikan oleh orang lain. Ketiga reformasi melalui proses pergantian kekuasaan politik kudeta. Keempat, reformasi jalan tengah yang melibatkan tokoh-tokoh reformasi dengan membentuk sebuah lembaga semacam dewan negara. Hendaknya pak Harto memilih khusnul khatimah dengan mengembalikan kekuasaanya kepada rakyat, umpamanya melalui dewan negara, (halaman 15).

Cak Nun tokoh yang sangat kritis terhadap kebijakan-kebijakan Orde Baru. Namun tiba-tiba berdamai dengan Soeharto. Kemudian Cak Nun dan Soeharto ngobrol di Istana. Bahkan Cak Nun yang mengajari Soeharto untuk mengucapkan “Tidak Jadi Presiden, tidak Patheken”.  Jangan membayangkan kalau Pak Harto diganti lantas semuanya beres. Jangan disangka kalau reformasi terlaksana, semuanya akan berjalan seperti yang kita harapkan, (halaman 25).

Buku dengan tebal 192 halaman ini, merekam upaya-upaya dan dialog yang dilakukan Emha Ainun Nadjib dan para tokoh reformis lainnya dengan pemerintah dalam membuka jalan menuju Indonesia yang lebih demokratis.

Bangsa Indonesia menghadapi tiga kemungkinan keadaan yakni. Pertama, semua omong reformasi, tetapi saling tidak jelas sehingga bersifat monolog-monolog dan tidak kunjung tercapai titik temu. Kedua, gerakan pro reformasi akan memuncak sampai ke upaya penggulingan presiden Soeharto dengan asumsi bahwa rakyat atau mahasiswa tidak percaya MPR/DPR maupun eksekutif. Terakhir, ABRI akan mengambil sikap, mengambil alih keadaan dengan konsepnya sendiri, kemudain mungkin terjadi polarisasi. bisa jadi ada negosiasi den kompromi, bisa juga akan berbenturan dan korban akan berjatuhan, (halaman 11).

Buku ini layak dibaca karena mengungkap lika-liku perjalanan bangsa Indonesia yang penuh intrik perebutan kekuasaan. Pembaca disuguhi saat-saat Soeharto meletakan jabatannya, bahkan tokoh nasional terlibat langsung dengan memberikan saran pada Soeharto untuk mengakhiri jabatannnya.

Dirensi Fathurozi Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang


Identitas Buku
Judul               : Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto
Penulis             : Emha Ainun Nadjib
Penerbit           : Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan           : 1. 2016
Tebal               : 192 Halaman
ISBN               : 978-602-291-206-4

Seni Menggali Potensi Diri Sendiri

Wednesday, 3 July 2019

Oleh Fathurozi
Terkadang, rasa takut, grogi, minder, dan gelisah muncul ketika ditunjuk secara mendadak untuk menyampaikan sesuatu di depan publik. Rasa ini mempengaruhi diri, sehingga tampil kurang maksimal. Bahkan kurang percaya diri akan mematahkan semangat meraih citacita. Maka, orang harus terus menggali potensi diri agar menemukan kekuatan untuk melangkah ke depan.
Semua harus percaya diri untuk menciptakan mental kuat dan mengeluarkan segala kemampuan. Steve Jobs pendiri Apple mengatakan, jangan biarkan opini orang menghalangi suara hatimu. Terpenting, milikilah keberanian mengikuti suara hati dan intuisi. Kritikan dijadikan cambuk meraih sukses. Memang tak mudah melawan rasa rendah diri atau tidak percaya diri.
Perasan-perasaan harus dilawan, sehingga mampu berubah. Kalau sudah berhasil mengatasi, jangan sampai muncul merasa super. Arti super kira-kira merasa lebih hebat dari orang lain. Jika ini yang terjadi akan menjauhkan diri dari kesuksesan. Orang hanya perlu melihat ke dalam diri sendiri (halaman 91). Mengalahkan diri sendiri tidaklah mudah.
Caranya ketahuilah kebaikan atau kelebihan dan kekurangan atau keburukan. Potensi diri akan muncul melalui proses panjang. Aristoteles, filsuf Yunani, mengatakan, mengenali diri sendiri awal seluruh kebijaksanaan (halaman 2). Penguasaan diri memerlukan perencanaan, strategi, serta langkah yang tepat. Juga butuh tekad kuat, perjuangan, pengorbanan, kesabaran, keuletan, komitmen, dan konsistensi.
Kemudian sambil berjalan, mungkin orang akan dapat menemukan ilmu-ilmu baru untuk memberdayakan, sehingga menjadi lebih berharga. Untuk meraih kesuksesan orang harus memiliki pola pikir di luar kebanyakan warga. Mungkin ide di luar kelaziman akan ditertawakan orang banyak. Namun, hal tersebut harus dijadikan sebagai semangat atau peluang untuk meraih sebuah keberhasilan.
Percaya pada kemampuan diri bisa menciptakan kelebihan dan mengubah hidup (halaman 7). Dalam buku Kuasai Dirimu: Panduan Membangun Mind-set dan Mental Sukses terdapat beberapa cara membangun Succes Mindset. Di antaranya, temukan sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan, pendidikan, maupun keluarga. Kemudian singkirkan ego.
Mulai menentukan target dalam aspek: sekolah, sosial, dan keluarga. Mencari sumber atau referensi sebagai inspirasi untuk maju. Jika ada sikap yang dapat merusak cita-cita, sesegera mungkin ditinggalkan. Catat beberapa keberhasilan kecil di siang hari. Perbaiki kegagalan dan berani keluar dari pemikiran mayoritas orang (halaman 89-90).
Bebaskan diri untuk berani bermimpi. Dengan bermimpi orang akan meraih kesuksesan seperti dialami Susan Wojcicki, penggagas iklan AdSense dan AdWords atau Steve Jobs pendiri Apple. Bisa juga seperti Mark Zuckerberg pendiri Facebook. Buku ini menyajikan langkah-langkah untuk mengenali diri, mengelola ego, menajamkan, dan menjernihkan pikiran.
Juga membahas cara berdialog dengan diri sendiri, memperbaiki kualitas diri, serta membuat visi besar dengan langkah kecil yang perlu segera dilakukan. 
Diresensi Fathurozi, Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Semarang
Identitas Buku
Judul               : Kuasai Dirimu: Panduan Membangun Mind-set dan Mental Sukses
Penulis             : Ahmad Dzikran
Penerbit           : Gemilang, Jakarta
Cetakan           : I, Januari 2017
Tebal               : 232 halaman
ISBN               : 978-602-71503-8-6

Menyelami Dunia Penelitian Sosial Keagamaan

Friday, 10 August 2018


Oleh Fathurozi
Melakukan penelitian keagamaan tak semudah membalikan telapak tangan, namun penuh perjuangan dan tantangan. Apalagi ketika melakukan penelitian di wilayah konflik berbau suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA). Bahkan, jika hasil penelitiannya dirasa merugikan kelompok tertentu, dianggap hasilnya mengada-ada atau pesanan. Tak ayal caci maki sering kali menampar muka peneliti.  
Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang peneliti keagamaan 16 peneliti mambagikan cerita yang dialami selama di lapangan. Semisal godaan, tantangan dan jabatan jadi taruhan. Namun permasalahan ini dapat diatasi dengan trik-trik yang dikuasai oleh para peneliti.
Dalam buku terdapat 16 kisah yang sajikan para peneliti. Kisah yang dibahas mulai agama sempalan, naskah kuno, mitos dan peristiwa Tolikara. Dalam penulisan Alur  cerita beraneka ragam karena para periset memiliki bidang kepakaran yang berbeda-beda pula. Namun pembaca diajak menyelami dunia penelitian yang penuh kejadian yang menegangkan dan kejadian-kejadian lucu, konyol.
Sebelum melakukan penelitian biasanya peneliti mempersiapkan perlengkapan mulai surat tugas dari lembaga, surat rekomendasi dari Kesbangpolinmas. Dengan bekal perizinan belum tentu informan bersedia di wawancarai. Hal ini terjadi ketika meneliti kasus Bom Marriot. “Pelaku tidak mau di wawancarai oleh peneliti, berkat bantuan petugas lapas akhirnya pelaku mau di wawancarai,” (halaman 33).
Kebingungan juga di alami salah satu peneliti, harus melakukan penelitian di desa kutukan di wialayah Rembang. Mitosnya yang beredar di masyarakat, jika pejabat pemerintah yang masuk ke wilayah tersebut jabatannya akan lengser dan jika ada seorang PNS yang masuk juga akan mengalami nasib yang sama. Kebetulan Peneliti seorang PNS, sempat berpikir ulang melanjutkan penelitian atau membatalkan penelitian. Taruhnya jelas lengser menjadi PNS, namun ia memilih melanjutkan penelitian (halaman 143).
Gejolak batin, kebetulan peneliti baru saja ditinggal pergi istrinya. Namun tidak menjadi halangan menjalankan tugas dari kantor tempatnya bekerja. Tak ayal informan mengodanya, bukannya salah satu obyek penelitian Mas Aji ada yang masih single, jika Mas Aji mau, saya siap mengaturnya mempertemukan dengan kedua orang tuanya (halaman 150).
Kaget, Panik bercampur takut dialami Arifudin Ismail, ketika  sedang wawancara dengan informan, tiba-tiba muncul anjing dari kolom meja, spontan kakinya dinaikan di kursi sambil membaca ayat-ayat suci Alquran dan berzikir dalam hati (halaman 161). Begitu juga yang alami Zaenudin Daulay mengalami rasa cemas, takut ketika melakukan penelitian mencari fakta kasus Tolikara  (halaman 204).
Menarik apa yang dikatakan M. Bambang Pranowo, peneliti senior UIN Syarif Hidayatullah, dalam pengantarnya. Menurut dia, melakukan penelitian sosial atau keagamaan tidak semata soal teknis meneliti, tetapi tak kalah penting mengenai mindset, motivasi, curioursity, dan trik-trik dalam serangkai penelitian sosial.
Buku dengan tebal 238 halaman, cerita kejadian-kejadian yang tak disangka-sangka akan dialami peneliti dan tak mungkin dimasukan dalam laporan penelitian. Bisa dikatakan buku ini sebagai curatan para peneliti. Namun menarik dibaca bagi orang-orang yang berminat menjadi peneliti. 

Diresensi Fathurozi adalah Staf Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang
Identitas Buku:
Judul               : Cerita Meneliti, Kisah-kisah Unik Penelitian Keagamaan
Penulis             : Marzani Anwar, dkk
ISBN               : 978-602-1568-66-8
Tebal               : xvi+238 hlm
Cetakan           : Desember 2016
Penerbit           : Gaung Persada Press Jakarta


 
Support : Modifikasi Website | cucubumi