Antara Kepedulian dan Batas Empati Sosial

Tuesday, 27 January 2026


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَطَرَ الْقُلُوْبَ عَلَى الْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ، وَجَعَلَ التَّعَاوُنَ وَالْمَوَدَّةَ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia dalam jaringan kasih sayang, saling membutuhkan, dan saling menanggung. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., sang teladan agung dalam sikap peduli dan bijaksana, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Jamaah Jumat rahimakumullāh, kita berada pada bulan-bulan mulia dari Rajab, Sya’ban, hingga menjelang Ramadan. Sekaligus, juga berada pada bulan-bulan hujan yang menuntut kehati-hatian dan menjaga kesehatan. Pada bulan-bulan seperti ini berita musibah datang silih berganti. Banjir, gempa, longsor, kebakaran, atau berbagai bencana lain terjadi di berbagai tempat. Setiap kali kabar itu sampai kepada kita, hati tergerak untuk iba, tangan ingin membantu, dan pikiran ikut terbawa memikirkan nasib para korban. Itu adalah tanda iman dan kasih sayang yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Namun, kepedulian tidak berhenti pada para korban musibah besar saja. Ia merambat lebih dekat: kepada saudara, sahabat, tetangga, atau kawan yang mengalami kesulitan hidup. Kita merasa tidak tenang jika mereka susah, seolah-olah beban mereka adalah beban pribadi kita. Di titik inilah muncul pertanyaan batin yang penting: apakah Allah mewajibkan kita memikul seluruh beban orang-orang di sekitar kita? Ataukah Islam mengajarkan batas agar kepedulian tetap menjadi ibadah, bukan sumber kelelahan hati?

Hadirin jama’ah Jumat a’azzakumullah,

Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim, kita hidup dalam ikatan ukhuwah. Naluri untuk merasakan penderitaan saudara, keinginan untuk meringankan beban tetangga, dan semangat tolong-menolong adalah cahaya iman yang dipasang Allah di dalam hati. Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kasih sayang, cinta, dan simpati di antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim). Inilah pondasi empati sosial dalam Islam.

Namun, dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks, seringkali kita dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana. Kepedulian yang merupakan anugerah, bisa berubah menjadi beban yang melampaui batas. Seseorang yang kehidupannya sendiri baru dalam kadar cukup, atau bahkan serba kurang, namun terus memikul kegelisahan atas penderitaan semua orang dalam pikirannya, rentan mengalami kelelahan batin (burnout), kecemasan, dan akhirnya kehilangan daya untuk menolong siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Di sinilah kita perlu memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan kelembutan hati, tetapi juga kebijaksanaan hati.

Allah Swt., dalam kemahapengasihannya, telah menetapkan prinsip-prinsip keseimbangan yang sangat jelas. Pertama, prinsip tidak membebani di luar kesanggupan. Allah berfirman: laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini adalah landasan utama. Kepedulian yang berubah menjadi beban mental yang melampaui kapasitas kita, sejatinya sudah keluar dari koridor yang Allah tetapkan. Tanggung jawab kita adalah sebatas kesanggupan, bukan sebatas kecemasan.

Kedua, prinsip mendahulukan penjagaan diri. Allah berfirman: yaa ayyuhalladziina aamanuu alaikum anfusakum, laa yadlurrukum man dlalla idzahtadaitum “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105). Para ulama ahli tafsir, seperti Imam Nawawi al-Bantani, menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan prioritas etika: perbaiki dan jaga dirimu terlebih dahulu, baru kemudian engkau bisa efektif memperbaiki dan menjaga orang lain. Ini bukan egoisme, tetapi prasyarat. Bagaimana mungkin kita ingin menegakkan tongkat yang bengkok, sementara tongkat kita sendiri masih melengkung?

Ketiga, prinsip tanggung jawab kolektif, bukan individual. Allah berfirman: wa maa kaana l mu`minuuna liyanfiruu kaafah “Dan tidaklah patut bagi orang-orang mukmin pergi semuanya (untuk satu tugas/perang).” (QS. At-Taubah: 122). Artinya, memikul beban sosial adalah kewajiban bersama (fardhu kifayah). Kita tidak wajib, dan memang tidak akan mampu, memikul seluruh penderitaan dunia sendirian. Ini adalah hikmah dari sistem bermasyarakat dan berjamaah. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, peran jam’iyyah (organisasi) sangat vital untuk menyalurkan kepedulian secara terstruktur dan berkelanjutan, sehingga beban tidak jatuh hanya pada pundak individu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah Saw. juga mengajarkan keseimbangan ini secara nyata. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, beliau pernah menegur sahabat yang memforsir ibadah hingga melalaikan hak tubuh dan keluarganya dengan sabdanya:  إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya untuk dirimu ada hak atasmu, untuk Tuhanmu ada hak atasmu, untuk tamumu ada hak atasmu, dan untuk keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang mempunyai hak akan haknya.” (HR. Bukhari).

Dalam khazanah Islam terdapat beberapa kisah hikmah yang sering dipakai ulama untuk menjelaskan bahwa tidak semua beban harus kita tanggung, dan bahwa melepas urusan yang bukan kuasa kita bukan dosa, melainkan kebijaksanaan. Sebagai contoh, pertama, dalam QS. Al-Kahfi ayat 60–82, Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir. Ketika Khidir melubangi perahu orang miskin, Musa langsung protes: “Mengapa engkau merusak perahu mereka?” Musa merasa wajib segera membela yang tampak dizalimi. Namun Khidir menjelaskan kemudian: perahu itu dilubangi agar tidak dirampas raja zalim. Artinya: tidak semua penderitaan yang kita lihat harus kita tanggung atau selesaikan saat itu juga, karena ada hikmah Allah di luar jangkauan kita. Pelajarannya, Kadang kita harus menerima bahwa tidak semua kesusahan orang lain berada dalam kuasa kita, dan Allah punya rencana sendiri.

Kedua, Seorang pemuda datang meminta izin berjihad. Rasulullah bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Pemuda itu menjawab: “Ya.” Rasulullah bersabda:
“Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim) Pemuda itu ingin mengambil beban besar umat, tetapi Rasulullah mengembalikan dia pada tanggung jawab terdekat, bukan beban yang lebih luas. Pelajarannya, Islam tidak memerintahkan mengambil semua tugas besar jika ada kewajiban yang lebih dekat dan realistis.

Ketiga, diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar berkata: “Aku tidak ingin seseorang mengurusi semua urusan manusia, sementara urusan dirinya sendiri terbengkalai.” Pelajarannya, Mengabaikan sebagian urusan luar demi menjaga urusan diri adalah sikap terpuji, bukan dosa.

Keempat, Imam Malik pernah ditanya banyak persoalan dari berbagai daerah. Beliau menjawab sebagian besar dengan kalimat: “Lā adrī”Aku tidak tahu. Muridnya heran. Mengapa ulama besar tidak menjawab semua? Imam Malik berkata: “Jika aku menjawab semua, aku akan memikul beban yang bukan hakku.” Pelajarannya, Berani tidak memikul semua beban adalah tanda ilmu dan ketakwaan.

Maka, belajar menetapkan batas dalam empati, atau yang bisa kita sebut “bounded compassion” (kepedulian yang memiliki batas wajar), adalah suatu keharusan. Ini bukan berarti kita menjadi keras hati atau abai. Ini berarti: 1.  Kita peduli. 2.  Kita bantu sesuai kemampuan nyata yang kita miliki. 3.  Kita sadar bahwa tidak semua masalah di dunia ini adalah tanggung jawab langsung kita untuk diselesaikan sendiri. 4.  Kita serahkan kepada Allah apa yang berada di luar kuasa kita, sambil tetap berusaha pada area yang bisa kita jangkau. Ini adalah bentuk tawakkal dan pengakuan akan keterbatasan kita sebagai hamba. Merawat diri, baik fisik maupun mental, bukan dosa. Itu adalah strategi keberlanjutan agar kita bisa tetap menjadi sumber kebaikan dalam waktu yang panjang, untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُحِبُّونَ إِخْوَانَهُمْ وَيُؤَثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِحَيْثُ لَا يُضِرُّونَ بِأَنْفُسِهِمْ. اللَّهُمَّ قَوِّ قُلُوْبَنَا عَلَى الْخَيْرِ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِي الْعَطَاءِ وَالِاقْتِصَادَ فِي الْإِنْفَاقِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Amanah Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Ekologis: Refleksi Akhir Tahun 2025

Tuesday, 23 December 2025

 

الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما، وجعل الإنسان خليفة في الأرض لعمارتها، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di penghujung tahun 2025 ini, kita dihadapkan pada banyak peristiwa yang menggugah nurani: perubahan iklim yang kian ekstrem, bencana alam yang berulang, hutan yang menyusut, air yang tercemar, dan kehidupan yang semakin rapuh. Semua ini sering kita pahami sebagai krisis alam. Namun para ulama dan pemikir etika mengingatkan: krisis ekologi sejatinya adalah krisis amanah manusia.

Indonesia menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Indonesia kehilangan 1,04 juta hektar hutan primer pada 2022, menempatkannya sebagai negara dengan deforestasi tertinggi ketiga di dunia (https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/). Tingginya angka deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia membuat negara ini mendapat julukan sebagai negara yang gemar merusak hutan (Zuraya, 2011). Kondisi darurat lingkungan hidup di Indonesia ditandai oleh degradasi kualitas air, udara, dan lahan yang terus mendapat tekanan akibat alih fungsi hutan, pencemaran limbah domestik, pertumbuhan penduduk, serta lemahnya sistem sanitasi. Ketersediaan air di sejumlah wilayah, khususnya Jawa dan Bali, telah mencapai tingkat langka hingga kritis, sementara pencemaran udara, peningkatan volume sampah, serta kerusakan daerah aliran sungai dan ekosistem pesisir memperparah kerentanan ekologi dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat (KLHK, 2022). Krisis multidimensi inilah yang memunculkan urgensi ekoteologi - sebuah pendekatan teologis yang memadukan agama dan ekologi (Gottlieb, 2006). Dalam konteks Indonesia yang 87% penduduknya Muslim (BPS, 2020), ekoteologi Islam menjadi penting untuk menggerakkan aksi lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan. Semua ini adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada amanahnya sebagai khalifah di bumi.

Dalam Surat Al Ahzab 72, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir, lalu manusia yang memikul amanah itu.”

Imam Ali ibn Abi Thalib, dalam Nahjul Balaghah, mengajarkan satu prinsip mendasar: kekuasaan bukan kehormatan, melainkan beban amanah. Dalam suratnya kepada para pejabat, beliau menegaskan bahwa jabatan “bukanlah santapan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang melingkari leher dan akan dimintai pertanggungjawaban.” Pesan ini relevan bukan hanya bagi pemimpin, tetapi bagi setiap manusia sebagai khalifah di bumi.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A’raf: 56)

Kesadaran ekoteologis mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Nahjul Balaghah memang tidak menyebut istilah “krisis iklim” atau “ekologi” seperti bahasa modern. Namun pesan etisnya sangat jelas. Imam Ali melarang para petugas zakat menakuti hewan, memisahkan anak unta dari induknya, memerah susu hingga menyengsarakan anaknya, atau merusak tanah demi keuntungan sesaat. Bahkan beliau mengingatkan seorang gubernur Mesir:

“Perhatikanlah budidaya tanah lebih daripada pengumpulan pendapatan, karena siapa yang mengejar hasil tanpa menjaga tanah, ia akan menghancurkan negeri dan membinasakan penduduknya.”

Ini adalah pesan ekologi yang sangat tegas: keserakahan ekonomi adalah jalan menuju kehancuran kehidupan.

Imam Ali juga memuji keteraturan alam, keseimbangan bumi, dan bahkan menyebut bahwa rezeki seekor semut pun dijamin oleh Allah. Artinya, dalam pandangan Islam, makhluk sekecil apa pun berada dalam lingkaran amanah Ilahi. Merusaknya tanpa alasan yang adil adalah bentuk pengkhianatan terhadap tatanan ciptaan.

 

Jamaah rahimakumullah,
Di akhir tahun ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah gaya hidup kita semakin sederhana atau justru semakin rakus?
Apakah pembangunan yang kita banggakan menjaga kehidupan, atau justru mengorbankan masa depan anak cucu kita?

Memasuki bulan Rajab, kita diingatkan pada peristiwa Isra Mikraj, perjalanan spiritual Nabi yang bukan hanya mengajarkan kedekatan dengan Allah melalui shalat, tetapi juga kesadaran posisi manusia di hadapan langit dan bumi. Isra Mikraj menegaskan bahwa semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan bertanggung jawab sikapnya di bumi.

Mari kita jadikan akhir tahun ini sebagai momentum muhasabah:
apakah hidup kita semakin sederhana atau semakin rakus?
apakah ibadah kita melahirkan kepedulian atau justru ketidakpekaan?

Imam Ali mengingatkan bahwa keserakahan ibarat meminum air laut: semakin diminum, semakin haus, hingga akhirnya membinasakan. Sebaliknya, kesederhanaan adalah jangkar kapal kehidupan, yang mungkin terasa berat, tetapi menyelamatkan kita dari tenggelam di tengah badai zaman.

Imam Ali juga mengajarkan bahwa keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks hari ini, ketidakadilan ekologis terjadi ketika alam dipaksa keluar dari tempatnya: hutan ditebang tanpa batas, laut dieksploitasi tanpa jeda, dan bumi diperas demi keuntungan jangka pendek.

Kezaliman tidak selalu berupa kekerasan langsung. Kadang ia hadir melalui kebijakan, sistem ekonomi, dan kebiasaan hidup yang perlahan tetapi pasti menghancurkan keseimbangan kehidupan.

Etika amanah dalam Islam menuntut kita untuk bersikap rendah hati secara ontologis: menyadari bahwa manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian dari jaringan kehidupan ciptaan Allah. Kita hidup bukan di atas bumi, tetapi bersama bumi.

Relasi antara manusia dan alam diibaratkan seperti penunggang dan kudanya. Jika penunggang (manusia) bertindak ceroboh dan mengabaikan kebutuhan kuda (lingkungan), maka perjalanan akan gagal bagi keduanya. “Kuda” itu milik Tuan Yang Maha Tinggi, sementara penunggang hanyalah tamu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Refleksi akhir tahun 2025 ini seharusnya tidak berhenti pada penyesalan, tetapi berlanjut pada tekad:

·        Menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah,

·        Memilih hidup yang lebih adil dan sederhana,

·        Mendidik keluarga dan masyarakat untuk menghormati alam,

·        Dan menolak segala bentuk kepemimpinan yang rakus dan merusak.

Karena sesungguhnya, kerusakan alam adalah tanda rapuhnya etika, dan keselamatan bumi adalah cermin keberhasilan amanah manusia.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم اجعلنا من عبادك الذين يزرعون الخير حيث كانوا، ووفقنا لحفظ أمانة الأرض، واجعل أعمالنا صدقة جارية لنا في الدنيا والآخرة.

اللهم بارك لنا في أوطاننا، واحفظ أرضنا، ومياهنا، وهواءنا، وارزقنا قلوباً عادلة، وأيديَ رحيمة، وقيادةً تخافك في السر والعلن.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Mengasuh Generasi Alpha & Gen Z dengan Kebijaksanaan dan Kesadaran Zaman

Thursday, 27 November 2025


Khutbah I

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ مَنِ اتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ وَأَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله وَخَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ  قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ;

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang yang penuh keberkahan ini, Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada panjenengan semua untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan perintah Allah dan Rasulullah serta meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah.

 

Jamaah jum’ah

Pada kesempatan ini kita membahas sebuah fenomena sosial yang hari ini hadir di rumah-rumah kita, ruang kelas kita, bahkan dalam cara anak muda mengekspresikan diri: yaitu perubahan karakter generasi. Zaman akan terus berganti. Setiap generasi memiliki konteks, tantangan, dan caranya sendiri. Hari ini, kita melihat anak-anak kita, **Generasi Z** yang lahir antara 1997-2012, cenderung mencari keseimbangan hidup (*slow living*) dan sangat peduli pada kesehatan mental. Sementara adik-adik mereka, **Generasi Alpha** (lahir 2013-sekarang), adalah generasi digital sejati yang sangat cepat, jujur tanpa filter, dan terbiasa dengan segala sesuatu yang instan.

Perbedaan ini seringkali menimbulkan kesenjangan komunikasi. Kadang kita sebagai orang tua atau guru merasa bingung, bahkan tersinggung, dengan sikap mereka yang terkesan kurang sopan atau tidak sabaran. Namun, marilah kita renungkan sabda Rasulullah SAW:

 

**« مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ »**

 

*"Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (karena meninggalkannya) ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka."* (HR. Abu Daud).

 

Hadis ini mengajarkan kita tentang **pentingnya menyesuaikan metode pendidikan dengan usia dan kemampuan akal anak**. Tidak bisa kita samakan cara mendidik anak usia 7 tahun dengan 10 tahun, apalagi memaksakan cara didik zaman kita kepada anak-anak yang hidup di zaman serba digital.

Generasi

Tahun Kelahiran (Umum)

Karakteristik Utama

Konteks Pembentuk (Zeitgeist)

Baby Boomers

1946–1964

Loyal, pekerja keras, disiplin, menghargai hierarki, orientasi stabilitas.

Fase pasca-perang, ekonomi tumbuh, pola keluarga besar, pendidikan terbatas namun meningkat.

Generasi X

1965–1980

Mandiri, kritis, fleksibel, adaptif, menghargai keseimbangan kerja-hidup.

Transisi menuju globalisasi, lahirnya teknologi informasi, ekonomi mulai kompetitif.

Generasi Y / Millennials

1981–1996

Digital adopter, kolaboratif, kreatif, mencari makna hidup, menghargai kebebasan.

Munculnya internet, gadget awal, perubahan budaya kerja, pendidikan lebih terbuka.

Generasi Z

1997–2012

Digital native, visual, cepat, mencari keseimbangan (slow living), pragmatis, lebih peduli kesehatan mental.

Smartphone sejak kecil, media sosial, budaya multitasking, krisis ekonomi global, awareness isu keadilan & identitas.

Generasi Alpha

2013–2025

Sangat digital, to the point, jujur tanpa filter, terbiasa instan, visual ekstrem (AI, VR/AR), sangat adaptif.

Dunia serba digital sejak lahir, AI dan platform edukasi, screen-based learning, percepatan budaya & konsumsi.

 

Dua generasi ini mengalami burnout. Burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa kelelahan total, baik secara fisik maupun mental, akibat tekanan yang terus-menerus. Dalam keadaan ini, energi seperti habis, semangat menurun, dan hal-hal yang biasanya mudah dikerjakan pun terasa berat. Orang yang mengalami burnout sering merasa jenuh, sulit fokus, dan seperti tidak punya tenaga untuk berpikir atau bekerja. Sederhananya, burnout adalah capek yang menumpuk sampai membuat seseorang benar-benar kewalahan.

 

Berikut contoh percakapan Gen Alpha dengan generasi sebelumnya dengan gaya komunikasi to the point, jujur tanpa filter, dan cenderung literal—sering membuat orang tua kaget atau tak siap.

1. Contoh: Tentang Makan & Umur. Nenek: “Makan yang banyak ya, Nak, biar cepat gede dan pinter.” Cucu (Gen Alpha): “Kalau aku gede, nenek masih hidup nggak?”

2. Contoh: Tentang Tugas Sekolah. Ibu: “Tugas sekolahnya dikerjain dulu ya.” Anak: “Kenapa harus aku? Kan yang butuh nilai sekolah, bukan aku.” —Logika lurus dan kritis, meski tidak sesuai etika tradisional.

3. Contoh: Tentang Ibadah. Ayah: “Ayo salat dulu, Nak.” Anak: “Allah marah nggak kalau aku salatnya 5 menit lagi?”

—Bukan membantah, tetapi bertanya eksplisit tentang konsekuensi.

Berikut mencerminkan gaya khas Gen Z yang absurd, self-aware, sedikit nyeleneh.

1. Tentang Nikah. Ibu: “Kapan kamu nikah? Kamu nunggu apa?” Gen Z: “Nunggu stabil, Bu… stabil pemasukan, stabil emosi, stabil dunia.”

2. Tentang Masa Depan. Ibu: “Cita-citamu apa sih?”. Gen Z: “Hidup tenang, Bu. Tapi katanya itu cuma ada di surga.”

 

Gen Alpha dan Gen Z sama-sama melihat generasi sebelumnya sebagai sosok yang sering ribet, kurang konsisten, kurang memahami dunia digital, serta masih membawa pola pikir lama tentang kedisiplinan, kerja keras, dan ekspresi emosi. Gen Alpha bingung ketika aturan tidak jelas, penyampaian nasihat berputar-putar, atau dunia digital mereka dianggap sekadar “mainan.” Sementara Gen Z merasa ditekan oleh standar hidup yang kaku, tuntutan “tahan banting,” minimnya penghargaan terhadap kesehatan mental, serta ketidaksiapan generasi sebelumnya mengikuti perubahan teknologi dan cara hidup era sekarang.

Di sisi lain, kedua generasi ini mengharapkan hal yang serupa: komunikasi yang jelas, jujur, dan dua arah; konsistensi antara ucapan dan tindakan; penerimaan terhadap dunia digital; ruang aman untuk mengekspresikan emosi; serta fleksibilitas dalam pilihan hidup yang tidak harus meniru pola masa lalu. Intinya, mereka ingin dipahami sesuai konteks zaman mereka—yang bergerak lebih cepat dan lebih kompleks—serta didampingi tanpa dikontrol berlebihan.

 

Lalu, Bagaimana Generasi Terdahulu Mengasuh Mereka?

Pertama, dari mengontrol menjadi memahami

Generasi Alpha dan Z tidak dapat dibentuk dengan pola lama: “Pokoknya ikuti orang tua.”

Mereka butuh penjelasan, dialog, dan alasan yang rasional. Al-Qur’an sendiri menggunakan pendekatan dialogis:
“Tidakkah kamu berpikir? Tidakkah kamu merenung?”
Ini menunjukkan bahwa pendidikan berbasis kesadaran lebih kuat daripada pendidikan berbasis otoritas.

Kedua, dari memaksa menjadi menuntun

Rasulullah SAW bersabda: "Ajarkanlah anak-anak sesuai dengan kadar akalnya."

Generasi Alpha yang terlalu jujur bukan berarti kurang adab; mereka hidup di dunia yang menghargai keterbukaan. Maka tugas kita adalah menanamkan cara menyampaikan kebenaran dengan hikmah, bukan mematikan keberanian mereka.

Generasi Z yang ingin slow living bukan pemalas; mereka merespon dunia yang burnout. Maka tugas kita adalah menanamkan tanggung jawab tanpa menghancurkan kesehatan mental mereka.

Ketiga, membangun adab melalui keteladanan, bukan ceramah

Anak-anak hari ini tidak hanya belajar dari ucapan kita, tapi dari: bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita mengatur emosi, bagaimana kita menghadapi perbedaan, dan bagaimana kita memperlakukan mereka.

Rasulullah mendidik melalui presence, akhlak, dan konsistensi—bukan hanya melalui perintah.

Keempat, menyesuaikan metode tetapi menjaga prinsip

Prinsip Islam tidak berubah: kejujuran, sopan santun, kerja keras, tanggung jawab, kasih sayang. Yang berubah hanya cara menanamkannya. Generasi digital membutuhkan metode digital. Generasi ekspresif membutuhkan ruang dialog. Generasi cepat membutuhkan kurikulum nilai yang lebih terstruktur. Nilai tetap sama; pendekatan harus berubah.

 

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Perubahan generasi bukan ancaman—tetapi amanah. Allah menguji kita dengan anak-anak yang hidup pada zaman mereka sendiri, bukan zaman kita. Maka: Dengarkan mereka sebelum menasihati; Pahami mereka sebelum menghakimi; Tuntun mereka dengan hikmah, bukan kemarahan; Perbarui cara mendidik, tetapi teguhkan nilai yang kita imani.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita rumah yang dipenuhi rahmat, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang lebih baik daripada kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ لله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ، اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا الله تَعَالىَ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ في ِالْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ، اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

**اللَّهُمَّ انْظُرْ إِلَى أَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ أَجْيَالِ زِيْد وَ أَلْفَا نَظْرَةَ رَحْمَةٍ وَعِنَايَةٍ**

**اللَّهُمَّ اهْدِهِمْ وَاهْدِ بِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ**

**اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَهُمْ، وَاشْرَحْ صُدُورَهُمْ، وَقَوِّ عُقُولَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ**

**اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى تَرْبِيَتِهِمْ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُدْوَةً صَالِحَةً فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ**

**اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّاتِنَا، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِ الْإِيمَانِ، وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ فِي الْعُمْرِ وَالصِّحَّةِ**

**رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا**

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ


 
Support : Modifikasi Website | cucubumi