Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي
هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِ
الْأَنَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ،
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 20:
يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۚ
وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي
الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا
قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا
"Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang
bersekutu itu belum pergi. Jika mereka datang kembali, orang-orang munafik itu
ingin berada di dusun-dusun bersama orang-orang Badui sambil menanyakan berita
tentang kamu. Sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang
kecuali sebentar saja."
Ayat ini turun dalam konteks Perang Ahzab. Namun pesan
moralnya melampaui ruang dan waktu. Allah mengkritik sekelompok orang yang
tidak mau terlibat dalam perjuangan bersama. Mereka memilih menjauh dari
tanggung jawab, tetapi tetap ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka
tidak hadir ketika umat membutuhkan tenaga, pikiran, dan pengorbanan, tetapi
selalu hadir sebagai penonton dan pemberi komentar.
Dalam bahasa sederhana, Al-Qur'an mengkritik mentalitas
yang hanya bertanya, "Bagaimana kabarnya?" tanpa pernah bertanya,
"Apa yang bisa saya lakukan?"
Islam tidak mendidik umatnya menjadi penonton. Islam
mendidik umatnya menjadi pelaku kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda
bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Karena itu seorang mukmin tidak boleh hanya menjadi
pengamat yang pasif.
Di lingkungan keluarga, kita harus terlibat mendidik
anak-anak. Di lingkungan masjid, kita harus terlibat memakmurkan rumah Allah.
Di lingkungan masyarakat, kita harus terlibat menjaga kerukunan, kebersihan,
dan kemaslahatan bersama. Di lingkungan bangsa, kita harus terlibat menjaga
persatuan dan menghadirkan manfaat sesuai kemampuan kita masing-masing.
Jamaah Jumat
Menariknya, kritik Al-Qur'an terhadap figur Badui dalam
QS. Al-Ahzab [33]:20 tidak dapat dipahami sebagai penilaian negatif terhadap
identitas sosial masyarakat Arab pedalaman secara keseluruhan. Dalam sejumlah
hadis, sosok Arab Badui justru tampil sebagai figur yang memiliki kesederhanaan
berpikir dan kejernihan fitrah. Hal ini tampak dalam kisah seorang Badui yang
bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang siapa yang akan menghisab dirinya
pada hari kiamat. Ketika Nabi menjawab bahwa Allah sendiri yang akan
menghisabnya, ia justru merasa gembira seraya menyatakan bahwa selama hidupnya
ia selalu merasakan kebaikan Allah, sehingga ia optimis akan memperoleh
rahmat-Nya kelak. Nabi pun mengapresiasi cara pandang tersebut sebagai bentuk
husnuzan kepada Allah. Dalam konteks ini, kesederhanaan cara berpikir ala Badui
tidak dipandang sebagai kekurangan, melainkan sebagai ekspresi ketulusan iman
dan kedekatan spiritual.
Namun, QS. Al-Ahzab [33]:20 menggunakan istilah bādūna
fī al-a‘rāb dalam konteks yang berbeda. Yang menjadi objek kritik bukanlah
kehidupan Badui itu sendiri, melainkan sikap sebagian orang yang ingin
mengambil posisi aman jauh dari arena perjuangan, lalu hanya “menanyakan
berita” (yas’alūna ‘an anbā’ikum) tanpa ikut memikul risiko dan tanggung jawab
yang dihadapi komunitas Muslim. Karena itu, makna Badui dalam ayat ini lebih
tepat dipahami sebagai kategori etis daripada kategori geografis. Ia merujuk pada
mentalitas pengamat yang memilih berada di luar peristiwa, enggan terlibat
dalam penyelesaian persoalan bersama, tetapi tetap ingin mengetahui hasil dan
perkembangannya. Dalam perspektif ini, kritik Al-Qur'an tidak diarahkan kepada
kesederhanaan hidup masyarakat pedalaman, melainkan kepada sikap pasif,
pengecut, dan penghindaran tanggung jawab sosial.
Pemaknaan semacam ini sejalan dengan penekanan Gus Baha
dalam kajian tersebut. Baginya, seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi
penonton yang bertanya, “Bagaimana kabarnya?” terhadap berbagai persoalan umat,
bangsa, maupun lingkungan sekitarnya. Seorang mukmin dituntut hadir dan
mengambil peran sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, terdapat perbedaan
mendasar antara Badui yang dipuji Nabi karena kesederhanaannya yang melahirkan
optimisme dan husnuzan kepada Allah, dengan figur bādūna fī al-a‘rāb dalam QS. Al-Ahzab
[33]:20 yang dikritik karena menjadikan jarak dan ketidakikutsertaan sebagai
cara menghindari tanggung jawab. Kesalehan yang ideal bukanlah menarik diri
dari kehidupan, melainkan tetap menjaga kejernihan fitrah sambil terlibat aktif
dalam menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu pelajaran penting dari para ulama adalah
bahwa kesalehan tidak identik dengan menjauh dari urusan masyarakat. Para ulama
besar tidak hanya beribadah di mihrab, tetapi juga membimbing umat, menyusun
hukum, mendidik generasi, dan menyelesaikan persoalan sosial.
Karena itu cita-cita seorang mukmin bukan sekadar
sukses untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi
orang lain. Sebagaimana doa yang diajarkan Al-Qur'an (Al Furqon: 74):
رَبَّنَا هَبْ
لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا
لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"… Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang
bertakwa."
Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan
umatnya lari dari tanggung jawab. Islam justru mendorong umatnya berani
mengambil peran, berani memikul amanah, dan berani berkontribusi.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu ciri orang beriman adalah hidup dari satu
kebaikan menuju kebaikan berikutnya. Setelah menunaikan satu kewajiban, ia
menunggu kewajiban berikutnya. Setelah melakukan satu amal saleh, ia mencari
kesempatan untuk melakukan amal saleh yang lain. Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan
malaikat: seorang hamba yang telah menyelesaikan satu kewajiban lalu menunggu
kewajiban berikutnya. Orang yang selesai salat Subuh lalu menunggu Zuhur,
selesai Zuhur lalu menunggu Asar—hidupnya bergerak dari satu perintah Allah
menuju perintah Allah yang lain.
Kesalehan tidak selalu berupa amalan yang luar biasa.
Kadang yang dibanggakan Allah adalah: salat tepat waktu, mengaji rutin,
istiqamah dalam kewajiban. Inilah mental seorang mukmin: bukan mengejar dunia,
tetapi menunggu kesempatan kebaikan berikutnya.
Jamaah Jumat hafizhakumullah,
Kita juga perlu meluruskan pemahaman bahwa kesalehan
identik dengan kemiskinan. Imam Malik dan Imam Syafi'i adalah contoh bahwa
kekayaan bukan musuh kesalehan. Ketika Imam Syafi'i masih muda dan hendak
melanjutkan belajar ke Irak, Imam Malik justru membekalinya dengan uang yang
sangat besar. Yang penting adalah harta diperoleh secara halal, digunakan untuk
ilmu, dan digunakan untuk kemaslahatan. Lebih baik uang dikuasai orang saleh
daripada dikuasai koruptor dan pelaku maksiat.
Ketika Imam Malik melihat kecerdasan Imam Syafi'i,
beliau mengatakan bahwa Syafi'i memiliki masa depan besar asalkan menjaga diri
dari maksiat. Setelah ilmu Imam Malik selesai dipelajari, Imam Syafi'i tidak
berhenti. Beliau berangkat ke Irak untuk belajar kepada murid-murid Abu
Hanifah, terutama Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Orang alim sejati tidak cepat
puas. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar keinginannya untuk belajar. Bukan
merasa paling benar, tetapi terus mencari kebenaran.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di antara pada khalifah sebagai pemimpin Islam awal, kisah
Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengajarkan kita tentang keberanian mengambil
keputusan baru. Sebelum beliau, para khalifah tetap menetap di Madinah. Ketika
Ali memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, banyak yang mempertanyakan
keputusan itu. Ali menjawab bahwa tujuan utama bukan mempertahankan tradisi,
tetapi memperluas kemajuan Islam. Kadang pemimpin harus mengambil keputusan
baru. Tidak semua kebaikan harus mengikuti pola lama. Jika perubahan membawa
manfaat yang lebih besar bagi umat, maka perubahan itu layak dilakukan. Karena
keputusan Ali, Kufah kemudian berkembang menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam
(termasuk kisah Imam Syafii di atas dan ilmuwan masa itu yang tidak cukup ke
Makkah Madinah, tetapi berguru ke Kufah Basrah, Baghdad Irak saat ini).
Kisah berikutnya terkait tawanan Perang Badar juga
mengajarkan kita tentang perbedaan pendekatan di antara orang-orang saleh.
Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab tentang apa yang
harus dilakukan terhadap para tawanan. Abu Bakar memilih memaafkan, Umar memilih
menghukum tegas. Keduanya berbeda. Lalu Nabi mengaitkan Abu Bakar dengan
kelembutan Nabi Ibrahim dan Umar dengan ketegasan Nabi Nuh. Kemudian Nabi Isa
menyerahkan seluruh keputusan kepada Allah. Perbedaan pandangan tidak selalu
berarti salah. Orang saleh bisa berbeda pendekatan: ada yang lembut, ada yang
tegas, ada yang netral. Yang penting adalah niat dan ketakwaannya.
Surat Ibrahim 36: فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ
عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Surat Nuh 26-27: رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ
دَيَّارًا إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ
Surat al Maidah 118: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ
لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Perbedaan pendekatan adalah sunnatullah. Yang penting
pelakunya orang saleh dan tujuannya untuk Allah.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Jika dirangkum, semua kisah ini mengajarkan tiga hal:
pertama, istiqamah lebih penting daripada spektakuler. Kedua, kesalehan harus
melahirkan kontribusi sosial. Ketiga, jangan menjadi penonton yang hanya
bertanya "bagaimana kabarnya?", tetapi jadilah pelaku yang ikut
memperbaiki keadaan.
Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah
selama ini kita hanya menjadi penonton berbagai persoalan umat, ataukah kita
sudah ikut menghadirkan solusi? Apakah kita hanya mengeluh tentang keadaan,
ataukah kita telah berbuat sesuatu untuk memperbaikinya?
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang aktif
dalam kebaikan dan jauh dari sifat pasif yang dicela oleh Al-Qur'an.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ،
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ
الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ
مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.رَبَّنَا لَا
تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
.jpg)
.jpg)

