Muslim Bermental Pemimpin

Friday, 10 July 2026

 

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِ الْأَنَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 20:

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۚ وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا

 

"Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi. Jika mereka datang kembali, orang-orang munafik itu ingin berada di dusun-dusun bersama orang-orang Badui sambil menanyakan berita tentang kamu. Sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang kecuali sebentar saja."

Ayat ini turun dalam konteks Perang Ahzab. Namun pesan moralnya melampaui ruang dan waktu. Allah mengkritik sekelompok orang yang tidak mau terlibat dalam perjuangan bersama. Mereka memilih menjauh dari tanggung jawab, tetapi tetap ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka tidak hadir ketika umat membutuhkan tenaga, pikiran, dan pengorbanan, tetapi selalu hadir sebagai penonton dan pemberi komentar.

Dalam bahasa sederhana, Al-Qur'an mengkritik mentalitas yang hanya bertanya, "Bagaimana kabarnya?" tanpa pernah bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan?"

Islam tidak mendidik umatnya menjadi penonton. Islam mendidik umatnya menjadi pelaku kebaikan. Rasulullah bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Karena itu seorang mukmin tidak boleh hanya menjadi pengamat yang pasif.

Di lingkungan keluarga, kita harus terlibat mendidik anak-anak. Di lingkungan masjid, kita harus terlibat memakmurkan rumah Allah. Di lingkungan masyarakat, kita harus terlibat menjaga kerukunan, kebersihan, dan kemaslahatan bersama. Di lingkungan bangsa, kita harus terlibat menjaga persatuan dan menghadirkan manfaat sesuai kemampuan kita masing-masing.

 

Jamaah Jumat

Menariknya, kritik Al-Qur'an terhadap figur Badui dalam QS. Al-Ahzab [33]:20 tidak dapat dipahami sebagai penilaian negatif terhadap identitas sosial masyarakat Arab pedalaman secara keseluruhan. Dalam sejumlah hadis, sosok Arab Badui justru tampil sebagai figur yang memiliki kesederhanaan berpikir dan kejernihan fitrah. Hal ini tampak dalam kisah seorang Badui yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang siapa yang akan menghisab dirinya pada hari kiamat. Ketika Nabi menjawab bahwa Allah sendiri yang akan menghisabnya, ia justru merasa gembira seraya menyatakan bahwa selama hidupnya ia selalu merasakan kebaikan Allah, sehingga ia optimis akan memperoleh rahmat-Nya kelak. Nabi pun mengapresiasi cara pandang tersebut sebagai bentuk husnuzan kepada Allah. Dalam konteks ini, kesederhanaan cara berpikir ala Badui tidak dipandang sebagai kekurangan, melainkan sebagai ekspresi ketulusan iman dan kedekatan spiritual.

Namun, QS. Al-Ahzab [33]:20 menggunakan istilah bādūna fī al-a‘rāb dalam konteks yang berbeda. Yang menjadi objek kritik bukanlah kehidupan Badui itu sendiri, melainkan sikap sebagian orang yang ingin mengambil posisi aman jauh dari arena perjuangan, lalu hanya “menanyakan berita” (yas’alūna ‘an anbā’ikum) tanpa ikut memikul risiko dan tanggung jawab yang dihadapi komunitas Muslim. Karena itu, makna Badui dalam ayat ini lebih tepat dipahami sebagai kategori etis daripada kategori geografis. Ia merujuk pada mentalitas pengamat yang memilih berada di luar peristiwa, enggan terlibat dalam penyelesaian persoalan bersama, tetapi tetap ingin mengetahui hasil dan perkembangannya. Dalam perspektif ini, kritik Al-Qur'an tidak diarahkan kepada kesederhanaan hidup masyarakat pedalaman, melainkan kepada sikap pasif, pengecut, dan penghindaran tanggung jawab sosial.

Pemaknaan semacam ini sejalan dengan penekanan Gus Baha dalam kajian tersebut. Baginya, seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi penonton yang bertanya, “Bagaimana kabarnya?” terhadap berbagai persoalan umat, bangsa, maupun lingkungan sekitarnya. Seorang mukmin dituntut hadir dan mengambil peran sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, terdapat perbedaan mendasar antara Badui yang dipuji Nabi karena kesederhanaannya yang melahirkan optimisme dan husnuzan kepada Allah, dengan figur bādūna fī al-a‘rāb dalam QS. Al-Ahzab [33]:20 yang dikritik karena menjadikan jarak dan ketidakikutsertaan sebagai cara menghindari tanggung jawab. Kesalehan yang ideal bukanlah menarik diri dari kehidupan, melainkan tetap menjaga kejernihan fitrah sambil terlibat aktif dalam menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu pelajaran penting dari para ulama adalah bahwa kesalehan tidak identik dengan menjauh dari urusan masyarakat. Para ulama besar tidak hanya beribadah di mihrab, tetapi juga membimbing umat, menyusun hukum, mendidik generasi, dan menyelesaikan persoalan sosial.

Karena itu cita-cita seorang mukmin bukan sekadar sukses untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana doa yang diajarkan Al-Qur'an (Al Furqon: 74):

 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"… Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya lari dari tanggung jawab. Islam justru mendorong umatnya berani mengambil peran, berani memikul amanah, dan berani berkontribusi.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salah satu ciri orang beriman adalah hidup dari satu kebaikan menuju kebaikan berikutnya. Setelah menunaikan satu kewajiban, ia menunggu kewajiban berikutnya. Setelah melakukan satu amal saleh, ia mencari kesempatan untuk melakukan amal saleh yang lain. Rasulullah menggambarkan bahwa Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan malaikat: seorang hamba yang telah menyelesaikan satu kewajiban lalu menunggu kewajiban berikutnya. Orang yang selesai salat Subuh lalu menunggu Zuhur, selesai Zuhur lalu menunggu Asar—hidupnya bergerak dari satu perintah Allah menuju perintah Allah yang lain.

Kesalehan tidak selalu berupa amalan yang luar biasa. Kadang yang dibanggakan Allah adalah: salat tepat waktu, mengaji rutin, istiqamah dalam kewajiban. Inilah mental seorang mukmin: bukan mengejar dunia, tetapi menunggu kesempatan kebaikan berikutnya.

 

Jamaah Jumat hafizhakumullah,

Kita juga perlu meluruskan pemahaman bahwa kesalehan identik dengan kemiskinan. Imam Malik dan Imam Syafi'i adalah contoh bahwa kekayaan bukan musuh kesalehan. Ketika Imam Syafi'i masih muda dan hendak melanjutkan belajar ke Irak, Imam Malik justru membekalinya dengan uang yang sangat besar. Yang penting adalah harta diperoleh secara halal, digunakan untuk ilmu, dan digunakan untuk kemaslahatan. Lebih baik uang dikuasai orang saleh daripada dikuasai koruptor dan pelaku maksiat.

Ketika Imam Malik melihat kecerdasan Imam Syafi'i, beliau mengatakan bahwa Syafi'i memiliki masa depan besar asalkan menjaga diri dari maksiat. Setelah ilmu Imam Malik selesai dipelajari, Imam Syafi'i tidak berhenti. Beliau berangkat ke Irak untuk belajar kepada murid-murid Abu Hanifah, terutama Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Orang alim sejati tidak cepat puas. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar keinginannya untuk belajar. Bukan merasa paling benar, tetapi terus mencari kebenaran.

 

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di antara pada khalifah sebagai pemimpin Islam awal, kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengajarkan kita tentang keberanian mengambil keputusan baru. Sebelum beliau, para khalifah tetap menetap di Madinah. Ketika Ali memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, banyak yang mempertanyakan keputusan itu. Ali menjawab bahwa tujuan utama bukan mempertahankan tradisi, tetapi memperluas kemajuan Islam. Kadang pemimpin harus mengambil keputusan baru. Tidak semua kebaikan harus mengikuti pola lama. Jika perubahan membawa manfaat yang lebih besar bagi umat, maka perubahan itu layak dilakukan. Karena keputusan Ali, Kufah kemudian berkembang menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam (termasuk kisah Imam Syafii di atas dan ilmuwan masa itu yang tidak cukup ke Makkah Madinah, tetapi berguru ke Kufah Basrah, Baghdad Irak saat ini).

Kisah berikutnya terkait tawanan Perang Badar juga mengajarkan kita tentang perbedaan pendekatan di antara orang-orang saleh. Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab tentang apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan. Abu Bakar memilih memaafkan, Umar memilih menghukum tegas. Keduanya berbeda. Lalu Nabi mengaitkan Abu Bakar dengan kelembutan Nabi Ibrahim dan Umar dengan ketegasan Nabi Nuh. Kemudian Nabi Isa menyerahkan seluruh keputusan kepada Allah. Perbedaan pandangan tidak selalu berarti salah. Orang saleh bisa berbeda pendekatan: ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang netral. Yang penting adalah niat dan ketakwaannya.

Surat Ibrahim 36: فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Surat Nuh 26-27: رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ

Surat al Maidah 118: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

Perbedaan pendekatan adalah sunnatullah. Yang penting pelakunya orang saleh dan tujuannya untuk Allah.

 

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Jika dirangkum, semua kisah ini mengajarkan tiga hal: pertama, istiqamah lebih penting daripada spektakuler. Kedua, kesalehan harus melahirkan kontribusi sosial. Ketiga, jangan menjadi penonton yang hanya bertanya "bagaimana kabarnya?", tetapi jadilah pelaku yang ikut memperbaiki keadaan.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini kita hanya menjadi penonton berbagai persoalan umat, ataukah kita sudah ikut menghadirkan solusi? Apakah kita hanya mengeluh tentang keadaan, ataukah kita telah berbuat sesuatu untuk memperbaikinya?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang aktif dalam kebaikan dan jauh dari sifat pasif yang dicela oleh Al-Qur'an.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kurban dan Fikih Sosial

Thursday, 14 May 2026


 الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَأَمَرَنَا بِتَقْوَى اللهِ فِي كُلِّ حِيْنٍ وَآنٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الَّذِي قَالَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ، كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَاحِبُ الْخُلُقِ الْعَظِيْمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia dalam jaringan kasih sayang, saling membutuhkan, dan saling menanggung. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., sang teladan agung dalam sikap peduli dan bijaksana, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT, terutama saat kita memasuki bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini. Salah satu ibadah yang sangat ditekankan adalah berkurban. Namun, seringkali kita terjebak pada ritualitas lahiriah sehingga melupakan esensi batiniah dan fikih yang melandasinya.

 

Pertama: Melawan Mentalitas Tamak di Hari Raya.

Gus Baha beberapa kali mengingatkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas RA. Bagi kita yang belum mampu membeli kambing atau sapi, jangan sampai hari raya Idul Adha berlalu tanpa ada "darah yang tumpah" di rumah kita. Diriwayatkan Ibnu Abbas RA pernah menyembelih ayam atau membeli daging biasa pada hari raya, lalu berkata kepada keluarganya: “Katakan kepada tetangga bahwa ini kurban Ibnu Abbas.”

Oleh karena itu, besok hari raya, setidaknya, sembelihlah seekor ayam untuk dinikmati bersama keluarga. Tujuannya apa? Agar kita tidak memiliki mentalitas tamak atau berharap diberi daging oleh orang lain. Hadis Riwayat Al-Bukhari: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah..."Hari raya adalah hari memberi dan makan-makan (yaumu aklin wa syurbin). Dengan menyembelih ayam di rumah, kita memposisikan diri sebagai "pemberi" bagi keluarga sendiri, sehingga martabat kita sebagai mukmin tetap terjaga dan hati kita merasa ikut merayakan syiar kurban.

 

Kedua: Fiqh Skala Prioritas dalam Berkurban.

Banyak di antara kita yang sudah menabung setahun penuh untuk berkurban. Namun, Allah seringkali menguji niat tersebut dengan menghadirkan keperluan lain yang lebih darurat. Misalkan, tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit keras, saudara yang terlilit hutang mendesak, atau kawan yang membutuhkan biaya pendidikan anak.

Dalam pandangan fikih yang jernih, membantu orang yang sedang kesulitan (terutama nyawa atau kebutuhan pokok) adalah kewajiban yang bersifat fardhu. Sementara kurban adalah sunnah muakkadah. Gus Baha menekankan, jika uang kurban itu akhirnya diberikan untuk biaya berobat saudara yang sakit, maka jangan berkecil hati. Kita niatkan saja uang tersebut sebagai pengganti kurban. Pahalanya bisa jadi lebih besar di sisi Allah karena Anda telah mendahulukan yang wajib di atas yang sunnah. Allah melihat ketulusan hati dalam menolong sesama, bukan sekadar tumpukan daging.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Ayat ini mengingatkan bahwa inti kurban bukan banyaknya daging, bukan mahalnya hewan, dan bukan pula pujian manusia. Yang dinilai Allah adalah hati yang tunduk dan takwa yang ikhlas.

 

Jamaah rahimakumullah,

Ketiga: Jangan Sampai Sunnah Mengalahkan Wajib.

Seafdol apa pun kurban, status hukumnya tetap sunnah. Jangan sampai demi gengsi atau ambisi berkurban, kita melalaikan kewajiban yang lebih utama. Jangan sampai kita berkurban tapi masih memiliki hutang yang jatuh tempo kepada tetangga, atau mengabaikan nafkah wajib keluarga. Ibadah yang benar adalah ibadah yang tertib secara hukum fikih, bukan ibadah yang didasari perasaan ingin dipuji atau sekadar mengikuti tren sosial.

Kaidah Fikih:

 “Mendahulukan yang wajib atas yang sunnah adalah suatu keharusan.”

 Kaidah Lain:

 “Menghilangkan kemudharatan (seperti sakit/kelaparan) lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan yang sifatnya anjuran (kurban).”

 

Terdapat kisah yang relevan dengan poin kedua dan ketiga ini. Ulama besar Abdullah bin Mubarak sedang dalam perjalanan haji. Di jalan, beliau melihat seorang wanita miskin memungut bangkai ayam untuk dimakan anak-anaknya yang kelaparan. Tersentuh hatinya, Abdullah bin Mubarak memberikan seluruh uang bekal hajinya kepada wanita itu dan ia pun batal berangkat haji.

Saat musim haji usai, kawan-kawannya bercerita melihat beliau di Mekkah. Lewat mimpi, diketahui bahwa Allah mengutus malaikat menyerupai beliau untuk berhaji karena Allah telah menerima "haji"-nya lewat sedekah tadi.

Relevansinya: Jika haji yang wajib saja bisa digantikan pahalanya dengan menolong orang yang darurat, apalagi ibadah kurban yang hukumnya sunnah.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam beberapa manaqib dan risalahnya, menekankan bahwa "memberi makan orang lapar" adalah salah satu jalan pintas menuju Allah. Beliau pernah berkata bahwa memberi sesuap nasi ke perut orang yang lapar lebih baik daripada membangun seribu masjid. Logika ini dapat digunakan pada kasus ibadah lain: jika uang kurban dialihkan untuk biaya berobat (menyelamatkan nyawa), maka itu adalah "ibadah kurban" yang sesungguhnya di mata Allah.

 

Keempat: Kurban sebagai Simbol Tauhid, Bukan Sekadar Seremonial.

Kurban adalah bukti ketertundukan kita. Nabi Ibrahim AS diperintah menyembelih putranya bukan karena Allah butuh darah, tapi untuk membuktikan bahwa di hati Ibrahim tidak ada yang lebih dicintai daripada Allah. Maka, kurban kita harus menjadi sarana untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita: sifat sombong, merasa paling suci, dan sifat egois.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah,

Marilah kita memahami bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan rahmat dan kemudahan. Jika mampu, maka berkurbanlah dengan hewan terbaik. Jika belum mampu, jangan bersedih dan jangan memaksakan diri sampai memberatkan keluarga.

Pemaparan konsep kurban dan fikih prioritas ini dengan mudah kita jumpai saat ini salah satunya dari pengajian dari Gus Baha, yang meneruskan tongkat estafet para guru dan pendahulunya. Konsep ini bukanlah hal baru. Dahulu sahabat Ibnu Abbas mengajarkan kesederhanaan agar kita tidak tamak. Imam Al-Ghazali mengingatkan kita tentang prioritas hati, dan ulama-ulama kita seperti Kiai Sahal Mahfudh mengajarkan bahwa fikih harus hadir sebagai solusi bagi kemanusiaan. Jangan sampai ibadah yang sunnah justru melahirkan kesusahan, hutang yang memberatkan, atau perselisihan rumah tangga. Karena Allah tidak melihat kemewahan kurban kita, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati kita.

Semoga Idul Adha tahun ini benar-benar menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, dan membersihkan hati dari sifat tamak dan riya. Semoga Allah memberi kita hati yang lapang, rezeki yang berkah, dan pemahaman agama yang lurus.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً .إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

 

 


Antara Kepedulian dan Batas Empati Sosial

Tuesday, 27 January 2026


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَطَرَ الْقُلُوْبَ عَلَى الْخَيْرِ وَالْمَحَبَّةِ، وَجَعَلَ التَّعَاوُنَ وَالْمَوَدَّةَ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia dalam jaringan kasih sayang, saling membutuhkan, dan saling menanggung. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., sang teladan agung dalam sikap peduli dan bijaksana, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Jamaah Jumat rahimakumullāh, kita berada pada bulan-bulan mulia dari Rajab, Sya’ban, hingga menjelang Ramadan. Sekaligus, juga berada pada bulan-bulan hujan yang menuntut kehati-hatian dan menjaga kesehatan. Pada bulan-bulan seperti ini berita musibah datang silih berganti. Banjir, gempa, longsor, kebakaran, atau berbagai bencana lain terjadi di berbagai tempat. Setiap kali kabar itu sampai kepada kita, hati tergerak untuk iba, tangan ingin membantu, dan pikiran ikut terbawa memikirkan nasib para korban. Itu adalah tanda iman dan kasih sayang yang Allah tanamkan dalam hati manusia. Namun, kepedulian tidak berhenti pada para korban musibah besar saja. Ia merambat lebih dekat: kepada saudara, sahabat, tetangga, atau kawan yang mengalami kesulitan hidup. Kita merasa tidak tenang jika mereka susah, seolah-olah beban mereka adalah beban pribadi kita. Di titik inilah muncul pertanyaan batin yang penting: apakah Allah mewajibkan kita memikul seluruh beban orang-orang di sekitar kita? Ataukah Islam mengajarkan batas agar kepedulian tetap menjadi ibadah, bukan sumber kelelahan hati?

Hadirin jama’ah Jumat a’azzakumullah,

Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim, kita hidup dalam ikatan ukhuwah. Naluri untuk merasakan penderitaan saudara, keinginan untuk meringankan beban tetangga, dan semangat tolong-menolong adalah cahaya iman yang dipasang Allah di dalam hati. Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal kasih sayang, cinta, dan simpati di antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim). Inilah pondasi empati sosial dalam Islam.

Namun, dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks, seringkali kita dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana. Kepedulian yang merupakan anugerah, bisa berubah menjadi beban yang melampaui batas. Seseorang yang kehidupannya sendiri baru dalam kadar cukup, atau bahkan serba kurang, namun terus memikul kegelisahan atas penderitaan semua orang dalam pikirannya, rentan mengalami kelelahan batin (burnout), kecemasan, dan akhirnya kehilangan daya untuk menolong siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Di sinilah kita perlu memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan kelembutan hati, tetapi juga kebijaksanaan hati.

Allah Swt., dalam kemahapengasihannya, telah menetapkan prinsip-prinsip keseimbangan yang sangat jelas. Pertama, prinsip tidak membebani di luar kesanggupan. Allah berfirman: laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini adalah landasan utama. Kepedulian yang berubah menjadi beban mental yang melampaui kapasitas kita, sejatinya sudah keluar dari koridor yang Allah tetapkan. Tanggung jawab kita adalah sebatas kesanggupan, bukan sebatas kecemasan.

Kedua, prinsip mendahulukan penjagaan diri. Allah berfirman: yaa ayyuhalladziina aamanuu alaikum anfusakum, laa yadlurrukum man dlalla idzahtadaitum “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105). Para ulama ahli tafsir, seperti Imam Nawawi al-Bantani, menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan prioritas etika: perbaiki dan jaga dirimu terlebih dahulu, baru kemudian engkau bisa efektif memperbaiki dan menjaga orang lain. Ini bukan egoisme, tetapi prasyarat. Bagaimana mungkin kita ingin menegakkan tongkat yang bengkok, sementara tongkat kita sendiri masih melengkung?

Ketiga, prinsip tanggung jawab kolektif, bukan individual. Allah berfirman: wa maa kaana l mu`minuuna liyanfiruu kaafah “Dan tidaklah patut bagi orang-orang mukmin pergi semuanya (untuk satu tugas/perang).” (QS. At-Taubah: 122). Artinya, memikul beban sosial adalah kewajiban bersama (fardhu kifayah). Kita tidak wajib, dan memang tidak akan mampu, memikul seluruh penderitaan dunia sendirian. Ini adalah hikmah dari sistem bermasyarakat dan berjamaah. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, peran jam’iyyah (organisasi) sangat vital untuk menyalurkan kepedulian secara terstruktur dan berkelanjutan, sehingga beban tidak jatuh hanya pada pundak individu.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah Saw. juga mengajarkan keseimbangan ini secara nyata. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, beliau pernah menegur sahabat yang memforsir ibadah hingga melalaikan hak tubuh dan keluarganya dengan sabdanya:  إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya untuk dirimu ada hak atasmu, untuk Tuhanmu ada hak atasmu, untuk tamumu ada hak atasmu, dan untuk keluargamu ada hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang mempunyai hak akan haknya.” (HR. Bukhari).

Dalam khazanah Islam terdapat beberapa kisah hikmah yang sering dipakai ulama untuk menjelaskan bahwa tidak semua beban harus kita tanggung, dan bahwa melepas urusan yang bukan kuasa kita bukan dosa, melainkan kebijaksanaan. Sebagai contoh, pertama, dalam QS. Al-Kahfi ayat 60–82, Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir. Ketika Khidir melubangi perahu orang miskin, Musa langsung protes: “Mengapa engkau merusak perahu mereka?” Musa merasa wajib segera membela yang tampak dizalimi. Namun Khidir menjelaskan kemudian: perahu itu dilubangi agar tidak dirampas raja zalim. Artinya: tidak semua penderitaan yang kita lihat harus kita tanggung atau selesaikan saat itu juga, karena ada hikmah Allah di luar jangkauan kita. Pelajarannya, Kadang kita harus menerima bahwa tidak semua kesusahan orang lain berada dalam kuasa kita, dan Allah punya rencana sendiri.

Kedua, Seorang pemuda datang meminta izin berjihad. Rasulullah bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Pemuda itu menjawab: “Ya.” Rasulullah bersabda:
“Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim) Pemuda itu ingin mengambil beban besar umat, tetapi Rasulullah mengembalikan dia pada tanggung jawab terdekat, bukan beban yang lebih luas. Pelajarannya, Islam tidak memerintahkan mengambil semua tugas besar jika ada kewajiban yang lebih dekat dan realistis.

Ketiga, diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar berkata: “Aku tidak ingin seseorang mengurusi semua urusan manusia, sementara urusan dirinya sendiri terbengkalai.” Pelajarannya, Mengabaikan sebagian urusan luar demi menjaga urusan diri adalah sikap terpuji, bukan dosa.

Keempat, Imam Malik pernah ditanya banyak persoalan dari berbagai daerah. Beliau menjawab sebagian besar dengan kalimat: “Lā adrī”Aku tidak tahu. Muridnya heran. Mengapa ulama besar tidak menjawab semua? Imam Malik berkata: “Jika aku menjawab semua, aku akan memikul beban yang bukan hakku.” Pelajarannya, Berani tidak memikul semua beban adalah tanda ilmu dan ketakwaan.

Maka, belajar menetapkan batas dalam empati, atau yang bisa kita sebut “bounded compassion” (kepedulian yang memiliki batas wajar), adalah suatu keharusan. Ini bukan berarti kita menjadi keras hati atau abai. Ini berarti: 1.  Kita peduli. 2.  Kita bantu sesuai kemampuan nyata yang kita miliki. 3.  Kita sadar bahwa tidak semua masalah di dunia ini adalah tanggung jawab langsung kita untuk diselesaikan sendiri. 4.  Kita serahkan kepada Allah apa yang berada di luar kuasa kita, sambil tetap berusaha pada area yang bisa kita jangkau. Ini adalah bentuk tawakkal dan pengakuan akan keterbatasan kita sebagai hamba. Merawat diri, baik fisik maupun mental, bukan dosa. Itu adalah strategi keberlanjutan agar kita bisa tetap menjadi sumber kebaikan dalam waktu yang panjang, untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat kita.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُحِبُّونَ إِخْوَانَهُمْ وَيُؤَثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِحَيْثُ لَا يُضِرُّونَ بِأَنْفُسِهِمْ. اللَّهُمَّ قَوِّ قُلُوْبَنَا عَلَى الْخَيْرِ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِي الْعَطَاءِ وَالِاقْتِصَادَ فِي الْإِنْفَاقِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Amanah Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Ekologis: Refleksi Akhir Tahun 2025

Tuesday, 23 December 2025

 

الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما، وجعل الإنسان خليفة في الأرض لعمارتها، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di penghujung tahun 2025 ini, kita dihadapkan pada banyak peristiwa yang menggugah nurani: perubahan iklim yang kian ekstrem, bencana alam yang berulang, hutan yang menyusut, air yang tercemar, dan kehidupan yang semakin rapuh. Semua ini sering kita pahami sebagai krisis alam. Namun para ulama dan pemikir etika mengingatkan: krisis ekologi sejatinya adalah krisis amanah manusia.

Indonesia menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Indonesia kehilangan 1,04 juta hektar hutan primer pada 2022, menempatkannya sebagai negara dengan deforestasi tertinggi ketiga di dunia (https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/). Tingginya angka deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia membuat negara ini mendapat julukan sebagai negara yang gemar merusak hutan (Zuraya, 2011). Kondisi darurat lingkungan hidup di Indonesia ditandai oleh degradasi kualitas air, udara, dan lahan yang terus mendapat tekanan akibat alih fungsi hutan, pencemaran limbah domestik, pertumbuhan penduduk, serta lemahnya sistem sanitasi. Ketersediaan air di sejumlah wilayah, khususnya Jawa dan Bali, telah mencapai tingkat langka hingga kritis, sementara pencemaran udara, peningkatan volume sampah, serta kerusakan daerah aliran sungai dan ekosistem pesisir memperparah kerentanan ekologi dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat (KLHK, 2022). Krisis multidimensi inilah yang memunculkan urgensi ekoteologi - sebuah pendekatan teologis yang memadukan agama dan ekologi (Gottlieb, 2006). Dalam konteks Indonesia yang 87% penduduknya Muslim (BPS, 2020), ekoteologi Islam menjadi penting untuk menggerakkan aksi lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan. Semua ini adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada amanahnya sebagai khalifah di bumi.

Dalam Surat Al Ahzab 72, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir, lalu manusia yang memikul amanah itu.”

Imam Ali ibn Abi Thalib, dalam Nahjul Balaghah, mengajarkan satu prinsip mendasar: kekuasaan bukan kehormatan, melainkan beban amanah. Dalam suratnya kepada para pejabat, beliau menegaskan bahwa jabatan “bukanlah santapan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang melingkari leher dan akan dimintai pertanggungjawaban.” Pesan ini relevan bukan hanya bagi pemimpin, tetapi bagi setiap manusia sebagai khalifah di bumi.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A’raf: 56)

Kesadaran ekoteologis mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Nahjul Balaghah memang tidak menyebut istilah “krisis iklim” atau “ekologi” seperti bahasa modern. Namun pesan etisnya sangat jelas. Imam Ali melarang para petugas zakat menakuti hewan, memisahkan anak unta dari induknya, memerah susu hingga menyengsarakan anaknya, atau merusak tanah demi keuntungan sesaat. Bahkan beliau mengingatkan seorang gubernur Mesir:

“Perhatikanlah budidaya tanah lebih daripada pengumpulan pendapatan, karena siapa yang mengejar hasil tanpa menjaga tanah, ia akan menghancurkan negeri dan membinasakan penduduknya.”

Ini adalah pesan ekologi yang sangat tegas: keserakahan ekonomi adalah jalan menuju kehancuran kehidupan.

Imam Ali juga memuji keteraturan alam, keseimbangan bumi, dan bahkan menyebut bahwa rezeki seekor semut pun dijamin oleh Allah. Artinya, dalam pandangan Islam, makhluk sekecil apa pun berada dalam lingkaran amanah Ilahi. Merusaknya tanpa alasan yang adil adalah bentuk pengkhianatan terhadap tatanan ciptaan.

 

Jamaah rahimakumullah,
Di akhir tahun ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah gaya hidup kita semakin sederhana atau justru semakin rakus?
Apakah pembangunan yang kita banggakan menjaga kehidupan, atau justru mengorbankan masa depan anak cucu kita?

Memasuki bulan Rajab, kita diingatkan pada peristiwa Isra Mikraj, perjalanan spiritual Nabi yang bukan hanya mengajarkan kedekatan dengan Allah melalui shalat, tetapi juga kesadaran posisi manusia di hadapan langit dan bumi. Isra Mikraj menegaskan bahwa semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan bertanggung jawab sikapnya di bumi.

Mari kita jadikan akhir tahun ini sebagai momentum muhasabah:
apakah hidup kita semakin sederhana atau semakin rakus?
apakah ibadah kita melahirkan kepedulian atau justru ketidakpekaan?

Imam Ali mengingatkan bahwa keserakahan ibarat meminum air laut: semakin diminum, semakin haus, hingga akhirnya membinasakan. Sebaliknya, kesederhanaan adalah jangkar kapal kehidupan, yang mungkin terasa berat, tetapi menyelamatkan kita dari tenggelam di tengah badai zaman.

Imam Ali juga mengajarkan bahwa keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks hari ini, ketidakadilan ekologis terjadi ketika alam dipaksa keluar dari tempatnya: hutan ditebang tanpa batas, laut dieksploitasi tanpa jeda, dan bumi diperas demi keuntungan jangka pendek.

Kezaliman tidak selalu berupa kekerasan langsung. Kadang ia hadir melalui kebijakan, sistem ekonomi, dan kebiasaan hidup yang perlahan tetapi pasti menghancurkan keseimbangan kehidupan.

Etika amanah dalam Islam menuntut kita untuk bersikap rendah hati secara ontologis: menyadari bahwa manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian dari jaringan kehidupan ciptaan Allah. Kita hidup bukan di atas bumi, tetapi bersama bumi.

Relasi antara manusia dan alam diibaratkan seperti penunggang dan kudanya. Jika penunggang (manusia) bertindak ceroboh dan mengabaikan kebutuhan kuda (lingkungan), maka perjalanan akan gagal bagi keduanya. “Kuda” itu milik Tuan Yang Maha Tinggi, sementara penunggang hanyalah tamu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Refleksi akhir tahun 2025 ini seharusnya tidak berhenti pada penyesalan, tetapi berlanjut pada tekad:

·        Menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah,

·        Memilih hidup yang lebih adil dan sederhana,

·        Mendidik keluarga dan masyarakat untuk menghormati alam,

·        Dan menolak segala bentuk kepemimpinan yang rakus dan merusak.

Karena sesungguhnya, kerusakan alam adalah tanda rapuhnya etika, dan keselamatan bumi adalah cermin keberhasilan amanah manusia.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم اجعلنا من عبادك الذين يزرعون الخير حيث كانوا، ووفقنا لحفظ أمانة الأرض، واجعل أعمالنا صدقة جارية لنا في الدنيا والآخرة.

اللهم بارك لنا في أوطاننا، واحفظ أرضنا، ومياهنا، وهواءنا، وارزقنا قلوباً عادلة، وأيديَ رحيمة، وقيادةً تخافك في السر والعلن.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

 
Support : Modifikasi Website | cucubumi