اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَطَرَ الْقُلُوْبَ عَلَى الْخَيْرِ
وَالْمَحَبَّةِ، وَجَعَلَ التَّعَاوُنَ وَالْمَوَدَّةَ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادَتِهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ. اللّٰهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْۖ
فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia
dalam jaringan kasih sayang, saling membutuhkan, dan saling menanggung.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., sang teladan
agung dalam sikap peduli dan bijaksana, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Jamaah Jumat rahimakumullāh, kita berada pada
bulan-bulan mulia dari Rajab, Sya’ban, hingga menjelang Ramadan. Sekaligus,
juga berada pada bulan-bulan hujan yang menuntut kehati-hatian dan menjaga
kesehatan. Pada bulan-bulan seperti ini berita musibah datang silih berganti.
Banjir, gempa, longsor, kebakaran, atau berbagai bencana lain terjadi di
berbagai tempat. Setiap kali kabar itu sampai kepada kita, hati tergerak untuk
iba, tangan ingin membantu, dan pikiran ikut terbawa memikirkan nasib para
korban. Itu adalah tanda iman dan kasih sayang yang Allah tanamkan dalam hati
manusia. Namun, kepedulian tidak berhenti pada para korban musibah besar saja.
Ia merambat lebih dekat: kepada saudara, sahabat, tetangga, atau kawan yang
mengalami kesulitan hidup. Kita merasa tidak tenang jika mereka susah,
seolah-olah beban mereka adalah beban pribadi kita. Di titik inilah muncul
pertanyaan batin yang penting: apakah
Allah mewajibkan kita memikul seluruh beban orang-orang di sekitar kita?
Ataukah Islam mengajarkan batas agar kepedulian tetap menjadi ibadah, bukan
sumber kelelahan hati?
Hadirin jama’ah Jumat a’azzakumullah,
Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim, kita hidup
dalam ikatan ukhuwah. Naluri untuk merasakan penderitaan saudara, keinginan
untuk meringankan beban tetangga, dan semangat tolong-menolong adalah cahaya
iman yang dipasang Allah di dalam hati. Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan
orang-orang beriman dalam hal kasih sayang, cinta, dan simpati di antara mereka
adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh
tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim). Inilah pondasi
empati sosial dalam Islam.
Namun, dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks,
seringkali kita dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana. Kepedulian yang
merupakan anugerah, bisa berubah menjadi beban yang melampaui batas. Seseorang
yang kehidupannya sendiri baru dalam kadar cukup, atau bahkan serba kurang,
namun terus memikul kegelisahan atas penderitaan semua orang dalam pikirannya,
rentan mengalami kelelahan batin (burnout), kecemasan, dan akhirnya kehilangan
daya untuk menolong siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Di sinilah kita perlu
memahami bahwa Islam bukan hanya mengajarkan kelembutan hati, tetapi juga
kebijaksanaan hati.
Allah Swt., dalam kemahapengasihannya, telah menetapkan
prinsip-prinsip keseimbangan yang sangat jelas. Pertama, prinsip tidak
membebani di luar kesanggupan. Allah berfirman: laa yukallifullahu nafsan
illaa wus’ahaa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini adalah landasan utama.
Kepedulian yang berubah menjadi beban mental yang melampaui kapasitas kita,
sejatinya sudah keluar dari koridor yang Allah tetapkan. Tanggung jawab kita
adalah sebatas kesanggupan, bukan sebatas kecemasan.
Kedua, prinsip
mendahulukan penjagaan diri. Allah berfirman: yaa ayyuhalladziina aamanuu
alaikum anfusakum, laa yadlurrukum man dlalla idzahtadaitum “Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Orang yang sesat tidak akan
membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105). Para
ulama ahli tafsir, seperti Imam Nawawi al-Bantani, menjelaskan bahwa ayat ini
mengajarkan prioritas etika: perbaiki dan jaga dirimu terlebih dahulu, baru
kemudian engkau bisa efektif memperbaiki dan menjaga orang lain. Ini bukan
egoisme, tetapi prasyarat. Bagaimana mungkin kita ingin menegakkan tongkat yang
bengkok, sementara tongkat kita sendiri masih melengkung?
Ketiga,
prinsip tanggung jawab kolektif, bukan individual. Allah berfirman: wa maa
kaana l mu`minuuna liyanfiruu kaafah “Dan tidaklah patut bagi orang-orang
mukmin pergi semuanya (untuk satu tugas/perang).” (QS. At-Taubah: 122). Artinya,
memikul beban sosial adalah kewajiban bersama (fardhu kifayah). Kita tidak
wajib, dan memang tidak akan mampu, memikul seluruh penderitaan dunia
sendirian. Ini adalah hikmah dari sistem bermasyarakat dan berjamaah. Dalam
tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, peran jam’iyyah (organisasi) sangat vital
untuk menyalurkan kepedulian secara terstruktur dan berkelanjutan, sehingga
beban tidak jatuh hanya pada pundak individu.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah Saw. juga mengajarkan keseimbangan ini
secara nyata. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, beliau pernah menegur sahabat
yang memforsir ibadah hingga melalaikan hak tubuh dan keluarganya dengan
sabdanya: إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya untuk dirimu ada hak atasmu, untuk
Tuhanmu ada hak atasmu, untuk tamumu ada hak atasmu, dan untuk keluargamu ada
hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang mempunyai hak akan haknya.” (HR.
Bukhari).
Dalam khazanah Islam terdapat
beberapa kisah hikmah yang sering dipakai ulama untuk menjelaskan bahwa tidak
semua beban harus kita tanggung, dan bahwa melepas urusan yang bukan kuasa kita
bukan dosa, melainkan kebijaksanaan. Sebagai contoh, pertama, dalam QS.
Al-Kahfi ayat 60–82, Nabi Musa mengikuti Nabi Khidir. Ketika Khidir melubangi
perahu orang miskin, Musa langsung protes: “Mengapa engkau merusak perahu
mereka?” Musa merasa wajib segera membela yang tampak dizalimi. Namun
Khidir menjelaskan kemudian: perahu itu dilubangi agar tidak dirampas raja
zalim. Artinya: tidak semua penderitaan yang kita lihat harus kita tanggung
atau selesaikan saat itu juga, karena ada hikmah Allah di luar jangkauan kita.
Pelajarannya, Kadang kita harus menerima bahwa tidak semua kesusahan orang lain
berada dalam kuasa kita, dan Allah punya rencana sendiri.
Kedua,
Seorang
pemuda datang meminta izin berjihad. Rasulullah bertanya: “Apakah kedua
orang tuamu masih hidup?” Pemuda itu menjawab: “Ya.” Rasulullah ﷺ bersabda:
“Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Pemuda itu ingin mengambil beban besar umat, tetapi Rasulullah mengembalikan
dia pada tanggung jawab terdekat, bukan beban yang lebih luas. Pelajarannya, Islam
tidak memerintahkan mengambil semua tugas besar jika ada kewajiban yang lebih
dekat dan realistis.
Ketiga, diriwayatkan bahwa Sayyidina
Umar berkata: “Aku tidak ingin seseorang mengurusi semua urusan manusia,
sementara urusan dirinya sendiri terbengkalai.” Pelajarannya, Mengabaikan
sebagian urusan luar demi menjaga urusan diri adalah sikap terpuji, bukan dosa.
Keempat,
Imam Malik
pernah ditanya banyak persoalan dari berbagai daerah. Beliau menjawab sebagian
besar dengan kalimat: “Lā adrī” – Aku tidak tahu. Muridnya heran.
Mengapa ulama besar tidak menjawab semua? Imam Malik berkata: “Jika aku
menjawab semua, aku akan memikul beban yang bukan hakku.” Pelajarannya,
Berani tidak memikul semua beban adalah tanda ilmu dan ketakwaan.
Maka, belajar menetapkan batas dalam empati, atau yang
bisa kita sebut “bounded compassion” (kepedulian yang memiliki batas wajar),
adalah suatu keharusan. Ini bukan berarti kita menjadi keras hati atau abai.
Ini berarti: 1. Kita peduli. 2. Kita bantu sesuai kemampuan nyata yang kita
miliki. 3. Kita sadar bahwa tidak semua
masalah di dunia ini adalah tanggung jawab langsung kita untuk diselesaikan
sendiri. 4. Kita serahkan kepada Allah
apa yang berada di luar kuasa kita, sambil tetap berusaha pada area yang bisa
kita jangkau. Ini adalah bentuk tawakkal dan pengakuan akan keterbatasan kita
sebagai hamba. Merawat diri, baik fisik maupun mental, bukan dosa. Itu adalah
strategi keberlanjutan agar kita bisa tetap menjadi sumber kebaikan dalam waktu
yang panjang, untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat kita.
بَارَكَ اللهُ
لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
II
اَلْحَمْدُ لِلهِ
حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ
الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ
كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ
وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ
بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ
العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ
وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ
وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا
هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيْرٌ . اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ
يُحِبُّونَ إِخْوَانَهُمْ وَيُؤَثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِحَيْثُ لَا
يُضِرُّونَ بِأَنْفُسِهِمْ. اللَّهُمَّ قَوِّ قُلُوْبَنَا عَلَى الْخَيْرِ، وَارْزُقْنَا
الْحِكْمَةَ فِي الْعَطَاءِ وَالِاقْتِصَادَ فِي الْإِنْفَاقِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


