Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Swt. yang menciptakan manusia
dalam jaringan kasih sayang, saling membutuhkan, dan saling menanggung.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw., sang teladan
agung dalam sikap peduli dan bijaksana, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT,
terutama saat kita memasuki bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini. Salah satu
ibadah yang sangat ditekankan adalah berkurban. Namun, seringkali kita terjebak
pada ritualitas lahiriah sehingga melupakan esensi batiniah dan fikih yang
melandasinya.
Pertama: Melawan Mentalitas Tamak di Hari Raya.
Gus Baha beberapa kali mengingatkan sebuah riwayat dari
Ibnu Abbas RA. Bagi kita yang belum mampu membeli kambing atau sapi, jangan
sampai hari raya Idul Adha berlalu tanpa ada "darah yang tumpah" di
rumah kita. Diriwayatkan Ibnu Abbas RA pernah menyembelih ayam atau membeli
daging biasa pada hari raya, lalu berkata kepada keluarganya: “Katakan kepada
tetangga bahwa ini kurban Ibnu Abbas.”
Oleh karena itu, besok hari raya, setidaknya,
sembelihlah seekor ayam untuk dinikmati bersama keluarga. Tujuannya apa? Agar
kita tidak memiliki mentalitas tamak atau berharap diberi daging oleh orang
lain. Hadis Riwayat Al-Bukhari: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan
di bawah..."Hari raya adalah hari memberi dan makan-makan (yaumu aklin wa
syurbin). Dengan menyembelih ayam di rumah, kita memposisikan diri sebagai
"pemberi" bagi keluarga sendiri, sehingga martabat kita sebagai
mukmin tetap terjaga dan hati kita merasa ikut merayakan syiar kurban.
Kedua: Fiqh Skala Prioritas dalam Berkurban.
Banyak di antara kita yang sudah menabung setahun penuh
untuk berkurban. Namun, Allah seringkali menguji niat tersebut dengan
menghadirkan keperluan lain yang lebih darurat. Misalkan, tiba-tiba ada anggota
keluarga yang sakit keras, saudara yang terlilit hutang mendesak, atau kawan
yang membutuhkan biaya pendidikan anak.
Dalam pandangan fikih yang jernih, membantu orang yang
sedang kesulitan (terutama nyawa atau kebutuhan pokok) adalah kewajiban yang
bersifat fardhu. Sementara kurban adalah sunnah muakkadah. Gus Baha menekankan,
jika uang kurban itu akhirnya diberikan untuk biaya berobat saudara yang sakit,
maka jangan berkecil hati. Kita niatkan saja uang tersebut sebagai pengganti
kurban. Pahalanya bisa jadi lebih besar di sisi Allah karena Anda telah
mendahulukan yang wajib di atas yang sunnah. Allah melihat ketulusan hati dalam
menolong sesama, bukan sekadar tumpukan daging.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37: “Daging
dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai
kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Ayat ini mengingatkan bahwa inti kurban bukan banyaknya
daging, bukan mahalnya hewan, dan bukan pula pujian manusia. Yang dinilai Allah
adalah hati yang tunduk dan takwa yang ikhlas.
Jamaah rahimakumullah,
Ketiga: Jangan Sampai Sunnah Mengalahkan Wajib.
Seafdol apa pun kurban, status hukumnya tetap sunnah.
Jangan sampai demi gengsi atau ambisi berkurban, kita melalaikan kewajiban yang
lebih utama. Jangan sampai kita berkurban tapi masih memiliki hutang yang jatuh
tempo kepada tetangga, atau mengabaikan nafkah wajib keluarga. Ibadah yang
benar adalah ibadah yang tertib secara hukum fikih, bukan ibadah yang didasari
perasaan ingin dipuji atau sekadar mengikuti tren sosial.
Kaidah Fikih:
“Mendahulukan
yang wajib atas yang sunnah adalah suatu keharusan.”
Kaidah Lain:
“Menghilangkan
kemudharatan (seperti sakit/kelaparan) lebih didahulukan daripada mengambil
kemaslahatan yang sifatnya anjuran (kurban).”
Terdapat kisah yang relevan dengan poin kedua dan
ketiga ini. Ulama besar Abdullah bin Mubarak sedang dalam perjalanan haji. Di
jalan, beliau melihat seorang wanita miskin memungut bangkai ayam untuk dimakan
anak-anaknya yang kelaparan. Tersentuh hatinya, Abdullah bin Mubarak memberikan
seluruh uang bekal hajinya kepada wanita itu dan ia pun batal berangkat haji.
Saat musim haji usai, kawan-kawannya bercerita melihat
beliau di Mekkah. Lewat mimpi, diketahui bahwa Allah mengutus malaikat
menyerupai beliau untuk berhaji karena Allah telah menerima
"haji"-nya lewat sedekah tadi.
Relevansinya: Jika haji yang wajib saja bisa digantikan
pahalanya dengan menolong orang yang darurat, apalagi ibadah kurban yang
hukumnya sunnah.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam beberapa manaqib dan
risalahnya, menekankan bahwa "memberi makan orang lapar" adalah salah
satu jalan pintas menuju Allah. Beliau pernah berkata bahwa memberi sesuap nasi
ke perut orang yang lapar lebih baik daripada membangun seribu masjid. Logika
ini dapat digunakan pada kasus ibadah lain: jika uang kurban dialihkan untuk
biaya berobat (menyelamatkan nyawa), maka itu adalah "ibadah kurban"
yang sesungguhnya di mata Allah.
Keempat: Kurban sebagai Simbol Tauhid, Bukan Sekadar
Seremonial.
Kurban adalah bukti ketertundukan kita. Nabi Ibrahim AS
diperintah menyembelih putranya bukan karena Allah butuh darah, tapi untuk
membuktikan bahwa di hati Ibrahim tidak ada yang lebih dicintai daripada Allah.
Maka, kurban kita harus menjadi sarana untuk menyembelih sifat-sifat
kebinatangan dalam diri kita: sifat sombong, merasa paling suci, dan sifat
egois.
Jamaah jum’at rahimakumullah,
Marilah kita memahami bahwa Islam adalah agama yang
menghadirkan rahmat dan kemudahan. Jika mampu, maka berkurbanlah dengan hewan
terbaik. Jika belum mampu, jangan bersedih dan jangan memaksakan diri sampai
memberatkan keluarga.
Pemaparan konsep kurban dan fikih prioritas ini dengan
mudah kita jumpai saat ini salah satunya dari pengajian dari Gus Baha, yang
meneruskan tongkat estafet para guru dan pendahulunya. Konsep ini bukanlah hal
baru. Dahulu sahabat Ibnu Abbas mengajarkan kesederhanaan agar kita tidak
tamak. Imam Al-Ghazali mengingatkan kita tentang prioritas hati, dan
ulama-ulama kita seperti Kiai Sahal Mahfudh mengajarkan bahwa fikih harus hadir
sebagai solusi bagi kemanusiaan. Jangan sampai ibadah yang sunnah justru melahirkan
kesusahan, hutang yang memberatkan, atau perselisihan rumah tangga. Karena
Allah tidak melihat kemewahan kurban kita, melainkan ketakwaan dan ketulusan
hati kita.
Semoga Idul Adha tahun ini benar-benar menjadi momentum
untuk memperkuat kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, dan membersihkan
hati dari sifat tamak dan riya. Semoga Allah memberi kita hati yang lapang,
rezeki yang berkah, dan pemahaman agama yang lurus.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ
اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ
وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ
أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً
بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ
مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ
وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى
بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا
تَسْلِيماً .إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى
النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ
بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً،
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ،
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى،
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ،
وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ
الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
.jpg)


