Muslim Bermental Pemimpin

Friday, 10 July 2026

 

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِ الْأَنَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 20:

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا ۚ وَإِنْ يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُمْ بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنْبَائِكُمْ ۖ وَلَوْ كَانُوا فِيكُمْ مَا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا

 

"Mereka mengira bahwa golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi. Jika mereka datang kembali, orang-orang munafik itu ingin berada di dusun-dusun bersama orang-orang Badui sambil menanyakan berita tentang kamu. Sekiranya mereka berada bersamamu, mereka tidak akan berperang kecuali sebentar saja."

Ayat ini turun dalam konteks Perang Ahzab. Namun pesan moralnya melampaui ruang dan waktu. Allah mengkritik sekelompok orang yang tidak mau terlibat dalam perjuangan bersama. Mereka memilih menjauh dari tanggung jawab, tetapi tetap ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka tidak hadir ketika umat membutuhkan tenaga, pikiran, dan pengorbanan, tetapi selalu hadir sebagai penonton dan pemberi komentar.

Dalam bahasa sederhana, Al-Qur'an mengkritik mentalitas yang hanya bertanya, "Bagaimana kabarnya?" tanpa pernah bertanya, "Apa yang bisa saya lakukan?"

Islam tidak mendidik umatnya menjadi penonton. Islam mendidik umatnya menjadi pelaku kebaikan. Rasulullah bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Karena itu seorang mukmin tidak boleh hanya menjadi pengamat yang pasif.

Di lingkungan keluarga, kita harus terlibat mendidik anak-anak. Di lingkungan masjid, kita harus terlibat memakmurkan rumah Allah. Di lingkungan masyarakat, kita harus terlibat menjaga kerukunan, kebersihan, dan kemaslahatan bersama. Di lingkungan bangsa, kita harus terlibat menjaga persatuan dan menghadirkan manfaat sesuai kemampuan kita masing-masing.

 

Jamaah Jumat

Menariknya, kritik Al-Qur'an terhadap figur Badui dalam QS. Al-Ahzab [33]:20 tidak dapat dipahami sebagai penilaian negatif terhadap identitas sosial masyarakat Arab pedalaman secara keseluruhan. Dalam sejumlah hadis, sosok Arab Badui justru tampil sebagai figur yang memiliki kesederhanaan berpikir dan kejernihan fitrah. Hal ini tampak dalam kisah seorang Badui yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang siapa yang akan menghisab dirinya pada hari kiamat. Ketika Nabi menjawab bahwa Allah sendiri yang akan menghisabnya, ia justru merasa gembira seraya menyatakan bahwa selama hidupnya ia selalu merasakan kebaikan Allah, sehingga ia optimis akan memperoleh rahmat-Nya kelak. Nabi pun mengapresiasi cara pandang tersebut sebagai bentuk husnuzan kepada Allah. Dalam konteks ini, kesederhanaan cara berpikir ala Badui tidak dipandang sebagai kekurangan, melainkan sebagai ekspresi ketulusan iman dan kedekatan spiritual.

Namun, QS. Al-Ahzab [33]:20 menggunakan istilah bādūna fī al-a‘rāb dalam konteks yang berbeda. Yang menjadi objek kritik bukanlah kehidupan Badui itu sendiri, melainkan sikap sebagian orang yang ingin mengambil posisi aman jauh dari arena perjuangan, lalu hanya “menanyakan berita” (yas’alūna ‘an anbā’ikum) tanpa ikut memikul risiko dan tanggung jawab yang dihadapi komunitas Muslim. Karena itu, makna Badui dalam ayat ini lebih tepat dipahami sebagai kategori etis daripada kategori geografis. Ia merujuk pada mentalitas pengamat yang memilih berada di luar peristiwa, enggan terlibat dalam penyelesaian persoalan bersama, tetapi tetap ingin mengetahui hasil dan perkembangannya. Dalam perspektif ini, kritik Al-Qur'an tidak diarahkan kepada kesederhanaan hidup masyarakat pedalaman, melainkan kepada sikap pasif, pengecut, dan penghindaran tanggung jawab sosial.

Pemaknaan semacam ini sejalan dengan penekanan Gus Baha dalam kajian tersebut. Baginya, seorang mukmin tidak cukup hanya menjadi penonton yang bertanya, “Bagaimana kabarnya?” terhadap berbagai persoalan umat, bangsa, maupun lingkungan sekitarnya. Seorang mukmin dituntut hadir dan mengambil peran sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, terdapat perbedaan mendasar antara Badui yang dipuji Nabi karena kesederhanaannya yang melahirkan optimisme dan husnuzan kepada Allah, dengan figur bādūna fī al-a‘rāb dalam QS. Al-Ahzab [33]:20 yang dikritik karena menjadikan jarak dan ketidakikutsertaan sebagai cara menghindari tanggung jawab. Kesalehan yang ideal bukanlah menarik diri dari kehidupan, melainkan tetap menjaga kejernihan fitrah sambil terlibat aktif dalam menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu pelajaran penting dari para ulama adalah bahwa kesalehan tidak identik dengan menjauh dari urusan masyarakat. Para ulama besar tidak hanya beribadah di mihrab, tetapi juga membimbing umat, menyusun hukum, mendidik generasi, dan menyelesaikan persoalan sosial.

Karena itu cita-cita seorang mukmin bukan sekadar sukses untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi orang lain. Sebagaimana doa yang diajarkan Al-Qur'an (Al Furqon: 74):

 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"… Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Doa ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya lari dari tanggung jawab. Islam justru mendorong umatnya berani mengambil peran, berani memikul amanah, dan berani berkontribusi.

 

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salah satu ciri orang beriman adalah hidup dari satu kebaikan menuju kebaikan berikutnya. Setelah menunaikan satu kewajiban, ia menunggu kewajiban berikutnya. Setelah melakukan satu amal saleh, ia mencari kesempatan untuk melakukan amal saleh yang lain. Rasulullah menggambarkan bahwa Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan malaikat: seorang hamba yang telah menyelesaikan satu kewajiban lalu menunggu kewajiban berikutnya. Orang yang selesai salat Subuh lalu menunggu Zuhur, selesai Zuhur lalu menunggu Asar—hidupnya bergerak dari satu perintah Allah menuju perintah Allah yang lain.

Kesalehan tidak selalu berupa amalan yang luar biasa. Kadang yang dibanggakan Allah adalah: salat tepat waktu, mengaji rutin, istiqamah dalam kewajiban. Inilah mental seorang mukmin: bukan mengejar dunia, tetapi menunggu kesempatan kebaikan berikutnya.

 

Jamaah Jumat hafizhakumullah,

Kita juga perlu meluruskan pemahaman bahwa kesalehan identik dengan kemiskinan. Imam Malik dan Imam Syafi'i adalah contoh bahwa kekayaan bukan musuh kesalehan. Ketika Imam Syafi'i masih muda dan hendak melanjutkan belajar ke Irak, Imam Malik justru membekalinya dengan uang yang sangat besar. Yang penting adalah harta diperoleh secara halal, digunakan untuk ilmu, dan digunakan untuk kemaslahatan. Lebih baik uang dikuasai orang saleh daripada dikuasai koruptor dan pelaku maksiat.

Ketika Imam Malik melihat kecerdasan Imam Syafi'i, beliau mengatakan bahwa Syafi'i memiliki masa depan besar asalkan menjaga diri dari maksiat. Setelah ilmu Imam Malik selesai dipelajari, Imam Syafi'i tidak berhenti. Beliau berangkat ke Irak untuk belajar kepada murid-murid Abu Hanifah, terutama Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Orang alim sejati tidak cepat puas. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar keinginannya untuk belajar. Bukan merasa paling benar, tetapi terus mencari kebenaran.

 

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di antara pada khalifah sebagai pemimpin Islam awal, kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga mengajarkan kita tentang keberanian mengambil keputusan baru. Sebelum beliau, para khalifah tetap menetap di Madinah. Ketika Ali memindahkan pusat pemerintahan ke Kufah, banyak yang mempertanyakan keputusan itu. Ali menjawab bahwa tujuan utama bukan mempertahankan tradisi, tetapi memperluas kemajuan Islam. Kadang pemimpin harus mengambil keputusan baru. Tidak semua kebaikan harus mengikuti pola lama. Jika perubahan membawa manfaat yang lebih besar bagi umat, maka perubahan itu layak dilakukan. Karena keputusan Ali, Kufah kemudian berkembang menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam (termasuk kisah Imam Syafii di atas dan ilmuwan masa itu yang tidak cukup ke Makkah Madinah, tetapi berguru ke Kufah Basrah, Baghdad Irak saat ini).

Kisah berikutnya terkait tawanan Perang Badar juga mengajarkan kita tentang perbedaan pendekatan di antara orang-orang saleh. Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar dan Umar bin Khattab tentang apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan. Abu Bakar memilih memaafkan, Umar memilih menghukum tegas. Keduanya berbeda. Lalu Nabi mengaitkan Abu Bakar dengan kelembutan Nabi Ibrahim dan Umar dengan ketegasan Nabi Nuh. Kemudian Nabi Isa menyerahkan seluruh keputusan kepada Allah. Perbedaan pandangan tidak selalu berarti salah. Orang saleh bisa berbeda pendekatan: ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang netral. Yang penting adalah niat dan ketakwaannya.

Surat Ibrahim 36: فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Surat Nuh 26-27: رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ

Surat al Maidah 118: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

Perbedaan pendekatan adalah sunnatullah. Yang penting pelakunya orang saleh dan tujuannya untuk Allah.

 

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Jika dirangkum, semua kisah ini mengajarkan tiga hal: pertama, istiqamah lebih penting daripada spektakuler. Kedua, kesalehan harus melahirkan kontribusi sosial. Ketiga, jangan menjadi penonton yang hanya bertanya "bagaimana kabarnya?", tetapi jadilah pelaku yang ikut memperbaiki keadaan.

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini kita hanya menjadi penonton berbagai persoalan umat, ataukah kita sudah ikut menghadirkan solusi? Apakah kita hanya mengeluh tentang keadaan, ataukah kita telah berbuat sesuatu untuk memperbaikinya?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang aktif dalam kebaikan dan jauh dari sifat pasif yang dicela oleh Al-Qur'an.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Modifikasi Website | cucubumi