الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض
وما بينهما، وجعل الإنسان خليفة في الأرض لعمارتها، نحمده ونستعينه ونستغفره،
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا
شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى
آله وصحبه أجمعين.
أَمَّا
بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ
وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا
وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ
Ma‘asyiral muslimin
rahimakumullah,
Saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan
ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan
menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Di penghujung tahun 2025 ini,
kita dihadapkan pada banyak peristiwa yang menggugah nurani: perubahan iklim
yang kian ekstrem, bencana alam yang berulang, hutan yang menyusut, air yang
tercemar, dan kehidupan yang semakin rapuh. Semua ini sering kita pahami
sebagai krisis alam. Namun para ulama dan pemikir etika mengingatkan: krisis
ekologi sejatinya adalah krisis amanah manusia.
Indonesia
menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Indonesia kehilangan 1,04
juta hektar hutan primer pada 2022, menempatkannya sebagai negara dengan
deforestasi tertinggi ketiga di dunia
(https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/). Tingginya angka
deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia membuat negara ini mendapat
julukan sebagai negara yang gemar merusak hutan (Zuraya,
2011).
Kondisi darurat lingkungan hidup di Indonesia ditandai oleh degradasi kualitas
air, udara, dan lahan yang terus mendapat tekanan akibat alih fungsi hutan,
pencemaran limbah domestik, pertumbuhan penduduk, serta lemahnya sistem
sanitasi. Ketersediaan air di sejumlah wilayah, khususnya Jawa dan Bali, telah
mencapai tingkat langka hingga kritis, sementara pencemaran udara, peningkatan
volume sampah, serta kerusakan daerah aliran sungai dan ekosistem pesisir
memperparah kerentanan ekologi dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat (KLHK,
2022).
Krisis multidimensi inilah yang memunculkan urgensi ekoteologi - sebuah
pendekatan teologis yang memadukan agama dan ekologi (Gottlieb,
2006).
Dalam konteks Indonesia yang 87% penduduknya Muslim (BPS, 2020), ekoteologi
Islam menjadi penting untuk menggerakkan aksi lingkungan berbasis nilai-nilai
keagamaan. Semua ini
adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada amanahnya sebagai
khalifah di bumi.
Dalam Surat Al Ahzab 72, Allah
berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah
menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya
enggan memikulnya dan mereka khawatir, lalu manusia yang memikul amanah itu.”
Imam Ali ibn Abi Thalib, dalam
Nahjul Balaghah, mengajarkan satu prinsip mendasar: kekuasaan bukan
kehormatan, melainkan beban amanah. Dalam suratnya kepada para pejabat, beliau
menegaskan bahwa jabatan “bukanlah santapan yang boleh dihabiskan, melainkan
amanah yang melingkari leher dan akan dimintai pertanggungjawaban.” Pesan
ini relevan bukan hanya bagi pemimpin, tetapi bagi setiap manusia sebagai
khalifah di bumi.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا
تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS.
al-A’raf: 56)
Kesadaran ekoteologis
mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا
خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ
تَعْمَلُونَ
“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya,
lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Nahjul Balaghah memang tidak
menyebut istilah “krisis iklim” atau “ekologi” seperti bahasa modern. Namun
pesan etisnya sangat jelas. Imam Ali melarang para petugas zakat menakuti
hewan, memisahkan anak unta dari induknya, memerah susu hingga menyengsarakan
anaknya, atau merusak tanah demi keuntungan sesaat. Bahkan beliau mengingatkan
seorang gubernur Mesir:
“Perhatikanlah budidaya tanah
lebih daripada pengumpulan pendapatan, karena siapa yang mengejar hasil tanpa
menjaga tanah, ia akan menghancurkan negeri dan membinasakan penduduknya.”
Ini adalah pesan ekologi yang
sangat tegas: keserakahan ekonomi adalah jalan menuju kehancuran kehidupan.
Imam Ali juga memuji
keteraturan alam, keseimbangan bumi, dan bahkan menyebut bahwa rezeki seekor
semut pun dijamin oleh Allah. Artinya, dalam pandangan Islam, makhluk sekecil
apa pun berada dalam lingkaran amanah Ilahi. Merusaknya tanpa alasan yang adil
adalah bentuk pengkhianatan terhadap tatanan ciptaan.
Jamaah rahimakumullah,
Di akhir tahun ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah gaya hidup kita semakin sederhana atau justru semakin rakus?
Apakah pembangunan yang kita banggakan menjaga kehidupan, atau justru
mengorbankan masa depan anak cucu kita?
Memasuki bulan Rajab, kita
diingatkan pada peristiwa Isra Mikraj, perjalanan spiritual Nabi ﷺ yang bukan hanya mengajarkan kedekatan
dengan Allah melalui shalat, tetapi juga kesadaran posisi manusia di hadapan
langit dan bumi. Isra Mikraj menegaskan bahwa semakin tinggi spiritualitas
seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan bertanggung jawab sikapnya di
bumi.
Mari kita jadikan akhir tahun
ini sebagai momentum muhasabah:
apakah hidup kita semakin sederhana atau semakin rakus?
apakah ibadah kita melahirkan kepedulian atau justru ketidakpekaan?
Imam Ali mengingatkan bahwa
keserakahan ibarat meminum air laut: semakin diminum, semakin haus, hingga
akhirnya membinasakan. Sebaliknya, kesederhanaan adalah jangkar kapal
kehidupan, yang mungkin terasa berat, tetapi menyelamatkan kita dari tenggelam
di tengah badai zaman.
Imam Ali juga mengajarkan
bahwa keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks
hari ini, ketidakadilan ekologis terjadi ketika alam dipaksa keluar dari
tempatnya: hutan ditebang tanpa batas, laut dieksploitasi tanpa jeda, dan bumi
diperas demi keuntungan jangka pendek.
Kezaliman tidak selalu berupa
kekerasan langsung. Kadang ia hadir melalui kebijakan, sistem ekonomi, dan
kebiasaan hidup yang perlahan tetapi pasti menghancurkan keseimbangan
kehidupan.
Etika amanah dalam Islam
menuntut kita untuk bersikap rendah hati secara ontologis: menyadari bahwa
manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian dari jaringan kehidupan ciptaan
Allah. Kita hidup bukan di atas bumi, tetapi bersama bumi.
Relasi
antara manusia dan alam diibaratkan seperti penunggang dan kudanya.
Jika penunggang (manusia) bertindak ceroboh dan mengabaikan kebutuhan kuda
(lingkungan), maka perjalanan akan gagal bagi keduanya. “Kuda” itu milik Tuan
Yang Maha Tinggi, sementara penunggang hanyalah tamu yang kelak akan dimintai
pertanggungjawaban.
Refleksi akhir tahun 2025 ini
seharusnya tidak berhenti pada penyesalan, tetapi berlanjut pada tekad:
·
Menjaga
lingkungan sebagai bagian dari ibadah,
·
Memilih
hidup yang lebih adil dan sederhana,
·
Mendidik
keluarga dan masyarakat untuk menghormati alam,
·
Dan menolak
segala bentuk kepemimpinan yang rakus dan merusak.
Karena sesungguhnya, kerusakan
alam adalah tanda rapuhnya etika, dan keselamatan bumi adalah cermin
keberhasilan amanah manusia.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah
Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا
مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد
أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
أَمَّا
بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا
الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ
وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ
وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ
بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ
وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ
العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات،
والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم اجعلنا من عبادك الذين يزرعون الخير حيث كانوا، ووفقنا لحفظ أمانة
الأرض، واجعل أعمالنا صدقة جارية لنا في الدنيا والآخرة.
اللهم بارك
لنا في أوطاننا، واحفظ أرضنا، ومياهنا، وهواءنا، وارزقنا قلوباً عادلة، وأيديَ
رحيمة، وقيادةً تخافك في السر والعلن.
عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله
يعلم ما تصنعون.

0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !