Amanah Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Ekologis: Refleksi Akhir Tahun 2025

Tuesday, 23 December 2025

 

الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما، وجعل الإنسان خليفة في الأرض لعمارتها، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ

 

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di penghujung tahun 2025 ini, kita dihadapkan pada banyak peristiwa yang menggugah nurani: perubahan iklim yang kian ekstrem, bencana alam yang berulang, hutan yang menyusut, air yang tercemar, dan kehidupan yang semakin rapuh. Semua ini sering kita pahami sebagai krisis alam. Namun para ulama dan pemikir etika mengingatkan: krisis ekologi sejatinya adalah krisis amanah manusia.

Indonesia menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Indonesia kehilangan 1,04 juta hektar hutan primer pada 2022, menempatkannya sebagai negara dengan deforestasi tertinggi ketiga di dunia (https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/). Tingginya angka deforestasi atau kerusakan hutan di Indonesia membuat negara ini mendapat julukan sebagai negara yang gemar merusak hutan (Zuraya, 2011). Kondisi darurat lingkungan hidup di Indonesia ditandai oleh degradasi kualitas air, udara, dan lahan yang terus mendapat tekanan akibat alih fungsi hutan, pencemaran limbah domestik, pertumbuhan penduduk, serta lemahnya sistem sanitasi. Ketersediaan air di sejumlah wilayah, khususnya Jawa dan Bali, telah mencapai tingkat langka hingga kritis, sementara pencemaran udara, peningkatan volume sampah, serta kerusakan daerah aliran sungai dan ekosistem pesisir memperparah kerentanan ekologi dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat (KLHK, 2022). Krisis multidimensi inilah yang memunculkan urgensi ekoteologi - sebuah pendekatan teologis yang memadukan agama dan ekologi (Gottlieb, 2006). Dalam konteks Indonesia yang 87% penduduknya Muslim (BPS, 2020), ekoteologi Islam menjadi penting untuk menggerakkan aksi lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan. Semua ini adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada amanahnya sebagai khalifah di bumi.

Dalam Surat Al Ahzab 72, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir, lalu manusia yang memikul amanah itu.”

Imam Ali ibn Abi Thalib, dalam Nahjul Balaghah, mengajarkan satu prinsip mendasar: kekuasaan bukan kehormatan, melainkan beban amanah. Dalam suratnya kepada para pejabat, beliau menegaskan bahwa jabatan “bukanlah santapan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah yang melingkari leher dan akan dimintai pertanggungjawaban.” Pesan ini relevan bukan hanya bagi pemimpin, tetapi bagi setiap manusia sebagai khalifah di bumi.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A’raf: 56)

Kesadaran ekoteologis mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Rasulullah bersabda:

الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat.” (HR. Muslim)

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Nahjul Balaghah memang tidak menyebut istilah “krisis iklim” atau “ekologi” seperti bahasa modern. Namun pesan etisnya sangat jelas. Imam Ali melarang para petugas zakat menakuti hewan, memisahkan anak unta dari induknya, memerah susu hingga menyengsarakan anaknya, atau merusak tanah demi keuntungan sesaat. Bahkan beliau mengingatkan seorang gubernur Mesir:

“Perhatikanlah budidaya tanah lebih daripada pengumpulan pendapatan, karena siapa yang mengejar hasil tanpa menjaga tanah, ia akan menghancurkan negeri dan membinasakan penduduknya.”

Ini adalah pesan ekologi yang sangat tegas: keserakahan ekonomi adalah jalan menuju kehancuran kehidupan.

Imam Ali juga memuji keteraturan alam, keseimbangan bumi, dan bahkan menyebut bahwa rezeki seekor semut pun dijamin oleh Allah. Artinya, dalam pandangan Islam, makhluk sekecil apa pun berada dalam lingkaran amanah Ilahi. Merusaknya tanpa alasan yang adil adalah bentuk pengkhianatan terhadap tatanan ciptaan.

 

Jamaah rahimakumullah,
Di akhir tahun ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah gaya hidup kita semakin sederhana atau justru semakin rakus?
Apakah pembangunan yang kita banggakan menjaga kehidupan, atau justru mengorbankan masa depan anak cucu kita?

Memasuki bulan Rajab, kita diingatkan pada peristiwa Isra Mikraj, perjalanan spiritual Nabi yang bukan hanya mengajarkan kedekatan dengan Allah melalui shalat, tetapi juga kesadaran posisi manusia di hadapan langit dan bumi. Isra Mikraj menegaskan bahwa semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan bertanggung jawab sikapnya di bumi.

Mari kita jadikan akhir tahun ini sebagai momentum muhasabah:
apakah hidup kita semakin sederhana atau semakin rakus?
apakah ibadah kita melahirkan kepedulian atau justru ketidakpekaan?

Imam Ali mengingatkan bahwa keserakahan ibarat meminum air laut: semakin diminum, semakin haus, hingga akhirnya membinasakan. Sebaliknya, kesederhanaan adalah jangkar kapal kehidupan, yang mungkin terasa berat, tetapi menyelamatkan kita dari tenggelam di tengah badai zaman.

Imam Ali juga mengajarkan bahwa keadilan adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dalam konteks hari ini, ketidakadilan ekologis terjadi ketika alam dipaksa keluar dari tempatnya: hutan ditebang tanpa batas, laut dieksploitasi tanpa jeda, dan bumi diperas demi keuntungan jangka pendek.

Kezaliman tidak selalu berupa kekerasan langsung. Kadang ia hadir melalui kebijakan, sistem ekonomi, dan kebiasaan hidup yang perlahan tetapi pasti menghancurkan keseimbangan kehidupan.

Etika amanah dalam Islam menuntut kita untuk bersikap rendah hati secara ontologis: menyadari bahwa manusia bukan pusat segalanya, melainkan bagian dari jaringan kehidupan ciptaan Allah. Kita hidup bukan di atas bumi, tetapi bersama bumi.

Relasi antara manusia dan alam diibaratkan seperti penunggang dan kudanya. Jika penunggang (manusia) bertindak ceroboh dan mengabaikan kebutuhan kuda (lingkungan), maka perjalanan akan gagal bagi keduanya. “Kuda” itu milik Tuan Yang Maha Tinggi, sementara penunggang hanyalah tamu yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Refleksi akhir tahun 2025 ini seharusnya tidak berhenti pada penyesalan, tetapi berlanjut pada tekad:

·        Menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah,

·        Memilih hidup yang lebih adil dan sederhana,

·        Mendidik keluarga dan masyarakat untuk menghormati alam,

·        Dan menolak segala bentuk kepemimpinan yang rakus dan merusak.

Karena sesungguhnya, kerusakan alam adalah tanda rapuhnya etika, dan keselamatan bumi adalah cermin keberhasilan amanah manusia.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. اللهم اجعلنا من عبادك الذين يزرعون الخير حيث كانوا، ووفقنا لحفظ أمانة الأرض، واجعل أعمالنا صدقة جارية لنا في الدنيا والآخرة.

اللهم بارك لنا في أوطاننا، واحفظ أرضنا، ومياهنا، وهواءنا، وارزقنا قلوباً عادلة، وأيديَ رحيمة، وقيادةً تخافك في السر والعلن.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Modifikasi Website | cucubumi