Menara Kudus bukan Bekas Candi

Senin, 30 April 2012



Oleh       : Fathurozi

Judul : Menara Kudus, the Minaret of Kudus
Penulis   : Solichin Salam
Penerbit : Kuning Mas, Jakarta
Tahun : Desember, 1988

KUDUS merupakan satu-satunya kota di Jawa, yang berasal dari bahasa Arab, dari asal kata al-Quds atau Kudus yang berarti suci. Nama kota ini, diberikan oleh Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq. Kudus di pandang sebagai kota suci karena di temukan bekas bangunan-bangunan suci dan sebelum Islam datang, Kudus sudah menjadi pusat kota Agama.

Sekitar abad 16, kota ini berfungsi sebagai kota pendukung dan pelindung bagi kota Demak (ibu kota kerajaan Islam pertama di Jawa), karena kudus menjadi benteng terakhir yang melindungi daerah-daerah sekitarnya.


Jatuhnya kerajaan Majapahit di tandai dengan Candrasengkala yang berbunyi: “Sirna Hilang kertaning bumi” artinya, Sirna: 0, Hilang:0, Kerta: 4 dan Bhumi: 1, jadi hilangnya kerajaan majapahit pada tahun saka 1400 atau tahun 1478 Masehi.

Di daerah ini terdapat Menara Kudus terbuat dari batu bata merah, bangunannya mirip dengan candi Jago ataupun candi Singosari di Malang, Jawa Timur, tak heran jika Menara Kudus mirip dengan candi karena saat itu, masa transisi dari zaman majapahit ke periode Demak. Namun Menara Kudus bukan berasal dari bekas candi.

Menurut Ahli Purbakala, Prof. Dr. R.M. Soetjipto Wirjosoeparto (1915-1971), bila Menara Kudus itu bekas candi. Pasti di tengah badan Menara relung-relungnya ada bekas candi dan kotak-kotak badan menara yang biasa pada candi terdapat relief-relief dan di atas pintu candi biasanya ada Makara,sebaliknya di atas pintu Menara Kudus tidak ada Makara.

Para sejarah maupun ahli purbala belum bisa memastikan kapan Menara Kudus di dirikan? Namun di tiang atap Menara Kudus ditemukan sebuah candrasengkala yang berbunyi: “Gapura rusak awahing jagad,” tulisan ini di tafsirkan oleh soetjipto, Gapura: 9, Rusak: 0, Ewah: 6, dan jagad: 1, dalam kalimat jawa dibaca dari belakang sehingga membentuk angka 1609 atau bertepatan dengan tahun 1685 Masehi.

Menurut cerita rakyat, konon di bawah Menara Kudus, dahulu ada sumur yang disebut “banyu penguripan.” Namun setelah Islam datang air penghidupan di tutup dan diatasnya di bangun sebuah menara.

Buku yang diterjemahkan, dalam 8 bahasa yakni, Jawa, Inggris, Arab, Prancis, Belanda, Jerman, China, Jepang, sangat menarik di baca dan menambah wacana tentang sejarah, budaya di tanah Jawa.

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Modifikasi Website | cucubumi